Yang Haram dan Tidak Berpintu: Kenapa Sih Kamu Suka Mencela Game Orang?

Cela-mencela game sudah menjadi kebiasaan di kalangan gamer. Kenapa kita (mereka) melakukannya? Jawabannya sederhana saja, kok.
0001-17200615386_20210221_071949_0000.png
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Hari itu cerah. Saya sedang membayar belanjaan di mini market.

Ketika sedang menunggu mbaknya menginput data ke mesin EDC, tiba-tiba seorang mas-mas masuk. Entah dia itu teman karyawan atau bahkan karyawan yang sedang di luar shift, yang jelas ia mengobrol akrab dengan salah seorang pegawai mini market.

Tidak lama kemudian, masuklah dua orang bocil. Kira-kira usia SMP lah. Mereka langsung menuju kasir di sebelah saya. “Mbak, bisa bayar Syop Ipeh nggak?”, kata salah satunya. “Bayar? Ngisi kali!”, jawab mbak kasir penuh heran. “Eh iya, hehe”, si bocil nyengir.

Lalu sesuatu yang menarik terjadi. Tanpa tedeng aling-aling, mas-mas yang tadi itu bilang ke para bocil, “Yee, bocah ep-ep lu yak? Burik tuh, game kok nggak ada pintu”. Dari nadanya, dia jelas bercanda.

ff nggak ada pintu
Perang kok bola. Foto: Garena

Para bocil sigap menjawab, “Pake pintu mau perang apa bertamu? Dasar game haram! Kolab kok sama firaun!”

Kamu yang suka nongkrongin akun/halaman/forum game di internet pasti akrab dengan cela-celaan ini. Ya, mereka adalah klaim template yang biasa digunakan oleh pemain-pemain Free Fire (FF) dan PUBG Mobile (PUBGM), dua game battle royale paling ramai di Indonesia, untuk saling merendahkan.

Baca juga:  AE Udil: Tengil Sekaligus Versatile

Kenapa cela-celaan?

Sekarang pertanyaannya, apa sih motivasinya? Kenapa bisa begitu bangga sama game yang dimainkan dan mencela game lain? Padahal yang dicaci juga tidak lantas pindah game, dan yang dibanggakan tidak otomatis menang Game of the Year.

Jujur, saya juga tidak tahu. Hehe.

Tapi, kalau boleh mengira-ngira, mungkin ini ada kaitannya dengan fakta bahwa FF dan PUBGM adalah sama-sama game battle royale. Ini membuat keduanya otomatis menjadi saingan. Celakanya, persaingan ini menurun sampai ke tingkat pemainnya, yang berpikir eksistensi game lain sebagai pengganggu. Maka muncullah usaha-usaha untuk mendiskreditkan saingan sambil meninggi-ninggikan game sendiri. Muncullah tak berpintu, game haram, burik, dan sebagainya.

Game haram broo

Dan karena tidak ada seorang pun yang mau diasosiasikan dengan sesuatu (game atau bukan) yang jelek, siklusnya berputar terus.

Tapi tentu ini ada batasnya. Maksud saya, semua orang akan mencapai sebuah titik di mana mereka tidak lagi peduli akan masalah-masalah yang sifatnya remeh, seperti cela-celaan game. Biasanya, titik itu dicapai seiring bertambahnya usia dan problematik hidup. Semakin tua kita, dan semakin rumit kehidupan kita, semakin tidak peduli pula kita pada ada atau tidaknya pintu di game.

pubg game haram
Mau perang apa bertamu? Foto: Team Dignitas

Sialnya, baik FF maupun PUBGM sama-sama punya basis pemain yang masih bocah—tidak punya banyak masalah hidup. Karena itu, mudah bagi mereka untuk menjadikan FF dan PUBGM sebagai urusan utama dalam kehidupan mereka. Akibatnya, tanpa sadar gamegame itu menjadi bagian dari kepribadian mereka (semacam bilang aku adalah Free Fire dan Free Fire adalah aku).

Baca juga:  Yang Mungkin Terjadi jika Free Fire Betulan Diblokir di Indonesia

Tidak heran jika kemudian game-nya dihina, mereka marah karena juga merasa sedang dihina. Begitu juga sebaliknya, setiap prestasi yang diraih game diklaim sebagai pencapaian pribadi juga.

Gimana-gimana, sudah seperti lulusan psikologi belum?

Belajar dari Dota

Sesungguhnya, masalah cela-celaan ini bukan barang baru. Sebelum game battle royale menggempur pasar, gamer di Indonesia terlebih dahulu terkena demam MOBA. Itu lho, game tawuran yang isinya bukan cuma kelahi, tapi juga bagus-bagusan skin. Nah, sekitar tahun 2017 sempat keluar template dari pemain game MOBA PC, terutama Dota 2: “MOBA kok analog?” Pertanyaan ini ditujukan pada Mobile Legends (ML), game MOBA yang dirilis di perangkat mobile.

Tapi, seiring berjalannya waktu, keadaan mulai berbalik. ML semakin besar. Turnamennya semakin serius. Atlet esport-nya, selain banyak, juga berprestasi. Sedangkan Dota? Jumlah pemainnya terus berkurang. Berbagai organisasi esport besar pun memutuskan buat membubarkan roster Dota mereka.

Baca juga:  Game di China: Segala Hal yang Mungkin Belum Kamu Ketahui

Soal jumlah pemain, ada statistik yang menarik. Jumlah pemain Dota 2 mencapai puncaknya di awal tahun 2016, tepatnya tanggal 29 Februari dengan hampir 1,3 juta pemain. Pertengahan 2016, saat ML dirilis, angka itu turun sekitar 25%. Saat ini, ketika ML sudah menjadi raksasa esport, pemain Dota tinggal kurang dari setengah jumlah tertingginya.

Statistik pemain Dota 2 sepanjang masa. Foto: SteamDB

Saya tidak lagi bilang ada pengaruh dari kesombongan pemain terhadap jatuhnya pamor Dota dan naiknya relevansi ML (meskipun ada hubungannya). Tapi, setidaknya ini adalah bukti bahwa roda nasib selalu berputar. Game yang kamu banggakan suatu saat akan berada di bawah, dan yang kamu cela justru malah naik. Jadi sudahlah, cukup main dan berhenti mencela atau berbangga-bangga.

Paling tidak, carilah masalah yang agak lebih serius dalam hidup.

Omong-omong, game yang bagus itu cuma Crash Bash yang lain sampah.