greyscale photography of condenser microphone
Foto: Tommy Lopez di Pexels.com
in

Valentino Simanjuntak dan Mengapa Komentator (Game) Sepak Bola Terkadang Menyebalkan

“Sebuah penampilan ciamik dari ‘Suami Muda Bersaudara’.”

Netizen beramai-ramai mengkritik gaya komentator sepak bola Valentino ‘Jebret’ Simanjuntak. Penyebabnya, pemilihan istilah nyeleneh dan terkadang tak masuk akal dari sosok ini dianggap sudah kelewat batas. 

Bayangkan saja. Untuk mengomentari tendangan jarak jauh, ia akan menggunakan istilah ‘tendangan LDR’. Saat komentator lain akan berucap ‘umpan salah sasaran’, ia bakal mengucapkan frasa ‘umpan gratifikasi’.

Tak jarang pula Valent menggunakan nama-nama artis atau tokoh terkenal untuk menggambarkan momen tertentu di lapangan. Salah satunya Anya Geraldine (maksudnya apa?). 

Ingat dengan ungkapan ‘Suami Bersaudara’? Itu juga berasal dari Valent yang secara serampangan menerjemahkan nama keluarga pemain Timnas Filipina, Philip dan James Younghusband.

Sebetulnya sudah sejak lama banyak yang tak menyukai gaya komentator Valent. Namun, baru pada helatan Piala Menpora 2021 (turnamen sepak bola Nasional pertama selama pandemi) isunya menjadi ‘bahasan nasional’. 

Adalah akun Twitter resmi Bali United yang memulai protes. Mereka menulis, “@Indosiar rikues besok jangan terlalu banyak hiperbola.” Seketika, #GerakanMuteMasal trending sebagai ungkapan kritik terhadap Valent.

Baca juga:  Potret Michael Jordan dalam Piksel Video Game

Valent sendiri beralasan, yang ia lakukan adalah guna meningkatkan animo masyarakat. Untuk melakukannya, dia mesti membuat gaya komentator sekreatif mungkin. Yang ia lakukan selama ini adalah perwujudannya.

Namun, para penonton dan penggemar sepak bola Indonesia sepertinya sudah gerah. Berbagai ucapan hiperbola yang Valentino Simanjuntak lakukan selama ini mereka nilai terlalu lebay, tak edukatif, dan sudah kelewat batas.

Alih-alih menerima kritikan yang datang, Valent malah berencana mempidanakan beberapa pengkritik ke meja hijau, dengan UU ITE pula, undang-undang yang selama ini kerap ‘menindas’ rakyat kecil. 

Sebuah paradoks mengingat Valent adalah komentator sepak bola, sebuah olahraga yang identik sebagai olahraganya rakyat kecil. Hmm…

Bagaimana pun, masalah Valent menunjukkan bahwa karena beberapa hal, komentator bisa jadi aspek yang paling tak disukai para penonton. Hal serupa nyatanya juga berlaku untuk komentator video game sepak bola.

Baca juga:  Hidup Itu Ibarat Sepak Bola, juga Ibarat PES dan FIFA

Kehadiran komentator jadi bukti semakin berkembangnya game jenis ini. Dari yang cuma suara singkat seperti ‘shoot’ dan ‘corner kick’ saja, menjadi ucapan kompleks yang menyulap game sepak bola bak laga sungguhan.

Judul-judul terkenal bahkan sampai mengontrak komentator betulan. FIFA punya Martin Tyler, Alan Smith, hingga Clive Tyldesley. PES, di sisi lain, merekrut nama-nama seperti Jon Champion, Peter Drury, hingga Jim Beglin.

Sayangnya, keberadaan mereka terkadang bikin gamer sebal. Faktornya banyak, bahkan hal sepele seperti suara si komentator. Namun, di antara semuanya, yang paling banyak dikeluhkan adalah ucapan yang itu-itu saja.

Baca juga:  Sepp Hedel, Sosok dengan Karier Terpanjang di Football Manager

Mau bagaimana lagi, proses pembuatan komentator game sepak bola terbilang rumit. Pertama, komentator tidak melakukan siaran secara play by play. Kedua, proses rekaman bertumpu pada skrip yang sudah disiapkan.

Itulah mengapa penambahan baris atau komentar baru biasanya hanya dilakukan setiap beberapa edisi sekali. Masuk akal jika akhirnya suara dan kalimat yang kita dengar terkesan itu-itu saja dan membosankan.

Simak saja dua kalimat berikut ini yang rasanya selalu kita dengar pada semua pertandingan game sepak bola.

komentator game sepak bola

“Hi there everybody, Martin Tyler here along with Alan Smith and our match today comes from the Premier League.”

I am Jon Champion and with me here is Jim Beglin.”

Meski begitu, seburuk-buruk apapun komentatornya, game sepak bola terasa sepi dan malah semakin membosankan jika mereka tak hadir. Pernah sewaktu kuliah saya main PES 2015 di laptop lawas. Karena laptopnya kurang memadai, saya mesti mematikan suara komentator agar lancar.

Saya bisa memainkannya tanpa lag sedikit pun tetapi rasanya kurang puas.

Pada akhirnya komentator memang tetap harus hadir di pertandingan sepak bola, baik pertandingan betulan maupun virtual. Namun, jika bisa memilih, tentu saya ingin komentator yang suaranya ‘enak’, informatif, tidak lebay seperti Valentino Simanjuntak, dan tak membosankan.

Ujung-ujungnya perkara selera, sih.

***

Nikmati pengalaman gaming yang lebih seru dengan voucher PSN termurah se-Indonesia di itemku

Tinggalkan Balasan

GIPHY App Key not set. Please check settings

2 Comments