Turnamen Esport Pertama di Dunia: Spacewar!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Spacewar jadi game pertama yang dipertandingkan dalam format turnamen. Boleh jadi inilah yang mengawali sejarah esports.

Sementara para pemain Esport masa kini bersuka ria di sebuah turnamen internasional berhadiah jutaan dolar, dahulu sekali, sejumlah mahasiswa dan peneliti Stanford sibuk memperebutkan paket langganan Rolling Stone dalam turnamen Spacewar.

Tahunnya adalah 1972 saat teknologi sama sekali masih asing. Jangan dulu bicara soal teknologi pada video game. Komputer bahkan masih jadi barang super mewah nan langka kala itu. Hanya orang tertentu yang punya privilege memilikinya.

Beruntunglah mereka yang bekerja di perusahaan atau belajar di kampus-kampus besar. Di tempat-tempat seperti itu kau bisa menemukan komputer berjejer rapi, dan para mahasiswa Stanford tadi termasuk mereka yang bisa menikmatinya.

Suatu hari pada 1972, beberapa mahasiswa ilmu komputer dari kampus tersebut melihat selebaran tertempel di papan buletin. Isinya tentang turnamen Spacewar yang rincinya, sebagaimana kami kutip dari Kotaku, seperti ini:

“Untuk pertama kalinya ‘Intergalactic Spacewar Olympic’ akan diadakan di sini, Rabu 19 Oktober. Juara pertama akan mendapat hadiah langganan Rolling Stone selama satu tahun.”

Baca juga:  RRQ Lemon, Ide-ide Gila, dan Aceh

Banyak yang tertarik sebab Rolling Stone adalah majalah musik yang kala itu tengah populer-populernya. Lebih-lebih, namanya persis sama dengan band rock Inggris yang terkenal pada 60-an. Walau demikian, ketertarikan tersebut juga ada kaitannya dengan Spacewar itu sendiri.

Spacewar.

Ini adalah salah satu game komputer dengan teknologi digital pertama. Seperti namanya, Spacewar berlatar di ruang angkasa. Game ini melibatkan sejumlah pesawat yang saling menembak sembari terus bermanuver. Kira-kira manuvernya seperti Sky Force-nya Symbian.

Adalah Steve Russel yang jadi aktor di baliknya. Bersama 5 kolega dari Mass Massachusetts Institute of Technology, ia bersusah payah mengembangkan game tersebut sebelum akhirnya rilis pada 1962.

Jika kemudian Spacewar mencapai popularitas dengan cepat, sejumlah kampus-kampus di Amerika Serikat dan Kanada layak mendapat kredit. Di masa itu para mahasiswa dan peneliti kampus-kampus inilah yang rutin memainkannya.

Kotaku bahkan menulis bahwa mereka bisa berjam-jam menatap layar Cathode Ray Tube (CRT) untuk memainkan Spacewar usai menjalani hari-hari melelahkan. Maka, tak heran bila turnamen Spacewar pertama di dunia juga terjadi di kampus, tepatnya Stanford.

Baca juga:  RRQ Alberttt: Dulu Gagal Masuk EVOS, Kini Rookie of The Year

Yang jadi pemenang? Baumgart. Bruce Baumgart nama lengkapnya.

Kala Baumgart menjuarai turnamen Spacewar

Dalam sebuah feature panjang yang terbit di Rolling Stone pada 2016, ia mengenang kembali kisahnya dengan Spacewar, game yang menurut Baumgart punya visual jempolan di masa itu. “Kumpulan bintang pada latar game adalah bintang sebenarnya dari Spacewar,” ucap Baumgart.

“Saat memainkannya, kita tak lagi memikirkan tombol. Prosesnya sudah seperti ketika kita mengetik cepat. Maksudnya, kita cuma fokus menatap pesawat di layar sembari terus menggerakkannya ke arah manapun sesuai keinginan,” sambungnya.

Baumgart melangkah ke turnamen dengan optimisme membumbung. Setelah memenangi babak penyisihan, ia mencapai babak final dan akan menghadapi empat pemain lainnya. Satu nama yang paling ia waspadai adalah Dave Poole yang untungnya tak hadir.

Baca juga:  Pengorbanan dan Kontroversi Microboy

Pada akhirnya final dimulai. Keriuhan terdengar di sepenjuru ruangan. Sementara itu, jurnalis Rolling Stone, Steward Brand, dan fotografer Annie Liebowitz yang memang berkesempatan meliput turnamen sejak awal, kembali hadir pada momen bersejarah tersebut.

“Lima pemain duduk berhadapan, saling berteriak, sembari terus menekan keyboard masing-masing untuk menambah semacam efek ‘kekerasan fisik’ pada ‘kekerasan’ yang sedang terlihat di dalam layar,” tutur Brand, dilansir Rolling Stone.

Brand mencatat tiap momen menegangkan pada final itu, sedangkan Liebowitz menangkap detail-detailnya lewat gambar. Dua sosok ini pula yang jadi saksi senyum Baumgart yang mengembang sebagai tanda keberhasilannya meraih juara.

Cuma paket langganan Rolling Stone yang Baumgart dapatkan, sesuatu yang di masa kini rasanya terlampau kecil. Tapi, biar bagaimana, turnamen itu jadi sejarah awal hadirnya turnamen game lain yang kini lebih dikenal dengan sebutan esport.

***

Nikmati pengalaman gaming yang lebih seru dengan top-up UC PUBG termurah se-Indonesia di itemku