Ketimbang Crunch, Studio Game Sebaiknya Menunda Perilisan Lebih Lama

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Terlepas dari rekor yang mereka catatkan, Cyberpunk 2077 banjir kritik karena banyak bug. Bisa jadi, inilah harga yang mesti mereka bayar akibat crunch.

CD Projekt Red berada dalam situasi pelik. Sudah tiga kali perilisan Cyberpunk 2077 mereka tunda.

Mereka punya opsi menundanya sekali lagi. Namun, keputusan ini bakal bikin penggemar menunggu lebih lama. CDPR enggan melakukannya. Lagi pula mereka perusahaan yang terkenal selalu mengedepankan konsumen untuk tiap kebijakan.

Saking memegang teguh hal tersebut, CDPR sampai mengingkari janjinya sendiri. Mereka menerapkan crunch, sistem kerja lembur berlebihan yang pada awal 2019 sempat mereka janjikan untuk dikurangi.

Cyberpunk 2077

Crunch berbuah hasil karena Cyberpunk 2077 akhirnya rilis. Walau begitu, CDPR seperti kena batunya. Cyberpunk 2077 penuh dengan bug. Karena hal tersebut, Sony bahkan menarik game itu dari PlayStation Store.

Setelah mengingkari janji, mendapat rentetan kritik karena ‘menyiksa’ para pekerja lewat crunch, studio game asal Polandia ini malah gagal menyajikan game berkualitas. Penyebabnya satu: Mereka amat terburu-buru.

Menghindari kegagalan sekaligus menyejahterakan pekerja

Shigeru Miyamoto sudah lama menantikan kehadiran Nintendo 3DS. Ini konsol yang siap menjadi andalan terbaru perusahaan tempatnya bekerja. Miyamoto dan tim mengembangkannya sebagai penerus Nintendo DS yang sukses besar.

Namun, Miyamoto mampu berdamai dengan keinginan besarnya itu. Perilisan ditunda. Para penggemar meradang tapi ia tak peduli. Baginya, lebih baik mendapat kritik gara-gara penundaan waktu rilis ketimbang menyajikan sesuatu yang belum sempurna.

Baca juga:  Kilas Balik 2020: Inilah 10 Game Terbaik 2020 Versi EXP

Tim pengembang 3DS sepakat menunda perilisan 3DS hingga tiga bulan lebih. Pada Februari 2011, konsol genggam itu akhirnya rilis di Jepang. Sebulan kemudian, 3DS meluncur di seluruh dunia.

Mula-mulai hasilnya mengecewakan. Selama dua bulan penjualan melempem. Tapi pada pertengahan 2011, situasi berbalik. Sebanyak 5 juta unit 3DS terjual di Jepang, sedangkan di Amerika mencapai 4,5 juta unit.

Angka itu jauh melampaui penjualan Nintendo DS yang ‘hanya’ laku 2,3 juta unit.

“Melihat situasi di Jepang saat ini, konsol kami laris manis. Saat ini kami telah menjual 5 juta konsol di sana, cukup luar biasa untuk sebuah konsol yang baru memasuki tahun pertamanya,“ kata Myamoto.

Penundaan rilis 3DS bukanlah pengalaman pertama Miyamoto. Tahun 1996, Nintendo 64 dirilis setelah mengalami penundaan sebanyak dua kali.

“Game yang ditunda (waktu rilisnya) pada akhirnya akan bagus, tetapi game yang terburu-buru akan selamanya buruk,” ujarnya ketika itu. Seperti 3DS, Nintendo 64 juga merupakan salah satu produk Nintendo paling sukses.

Nintendo memang menutut kesempurnaan atas produk-produk bikinan mereka. Selain itu, menunda perilisan lebih lama sekaligus jadi upaya untuk menghindari crunch.

Nintendo paham betul, game ataupun produk terbaik akan tercipta jika para pekerjanya bahagia. Dan mereka tahu bahwa kebahagiaan sulit muncul dalam tuntutan kerja berlebihan, bahkan meski mendapat bayaran tambahan.

Baca juga:  Menebak Game Favorit Kakek Sugiono, Aktor Idola Kita Semua
Animal Crossing

Saat mengembangkan Animal Crossing tahun lalu, misalnya, Nintendo sengaja menunda waktu rilis agar para pekerja tak terjebak crunch. Hasilnya sungguh menggembirakan lantaran Animal Crossing sukses besar.

Game yang hadir untuk Nintendo Switch itu memecahkan rekor penjualan game digital dengan 5 juta kopi. Ia jauh melampaui pemegang rekor sebelumnya, yakni Call of Duty: Black Ops III.

“Salah satu prinsip utama kami adalah membuat orang-orang tersenyum. Kami membicarakan ini sepanjang waktu. Bagi kami, itu juga harus berlaku untuk para karyawan. Kami perlu memastikan bahwa karyawan kami memiliki keseimbangan antara kehidupan dan kerja yang baik,” tutur direktur operasional Nintendo Amerika, Doug Bowser.

Upaya menyejahterakan juga dilakukan oleh Respawn Entertainment. Pada 2019, mereka dengan senang hati menunda perilisan Apex Legends Respawn karena salah satu desainer harus menghadiri sidang adopsi.

Perilisan pada akhirnya terjadi di waktu yang tak ideal. Namun, Respawn tak memedulikannya sebab bagi mereka, “Keluarga saya adalah prioritas,” ujar Jon Shiring, desainer game tersebut.

Baca juga:  Deretan Bug yang Buktikan Cyberpunk 2077 Belum Rampung

Kita perlu melihat lebih banyak lagi contoh seperti ini. Karena, biar bagaimana, akan terasa menyedihkan bila kita bersenang-senang lewat game ataupun konsol yang dikembangkan berkat keringat berlebih para pekerja.

Menunda perilisan lebih lama adalah opsi terbaik

Saat CD Projekt Red mengumumkan crunch pada Oktober, pengamat game Erik Kain termasuk salah satu yang mengkritik keras. Lewat sebuah artikel di Forbes, ia menyayangkan kebijakan itu.

Menurut Kain, CDPR punya opsi yang lebih manusiawi. Mereka bisa menunda perilisan hingga Januari atau Februari tahun depan. Terlepas dari upaya menghindari crunch, ini bisa jadi opsi yang ideal secara komersil.

Jika rilis sekitar November atau Desember, kata Kain, Cyberpunk 2077 akan rilis berbarengan dengan banyak game karena dua bulan itu memang sibuk. Apalagi Xbox Series X dan PlayStation 5 juga hadir di waktu-waktu tersebut.

“Merilis di bulan yang tidak terlalu ramai, sambil menghindari crunch, bisa menjadi strategi yang lebih baik sekaligus menunjukkan rasa hormat terhadap para pekerja. Ini mungkin tidak akan menyenangkan semua orang, tapi bisa membuat karyawan di CD Projekt Red dan keluarga mereka mengurangi stres karena terlalu banyak bekerja,” tulis Kain.

Apa boleh buat, Cyberpunk 2077 sudah terlanjur rilis. Bahkan dengan kondisi ini, di waktu-waktu ke depan para pekerja masih harus kerja ekstra untuk menyusun patch guna memperbaiki banyak bug yang tersebar di game tersebut. Tak ada lagi waktu menikmati hasil jerih payah mereka.