Shinji Mikami, Sosok di Balik Biohazard, bukan Resident Evil

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Shinji Mikami adalah sosok di balik hadirnya game yang kini kita kenal sebagai Resident Evil. Namun, ia tak menyukai penggunaan nama itu.

Melihat perjalanan kariernya, Shinji Mikami seperti melakukan belokan tajam berkali-kali.

Mikami kecil pernah terobsesi menjadi seorang pebalap Formula 1. Selama bertahun-tahun ia memupuk cita-cita besar tersebut. Ketika kuliah, semuanya berubah. Obsesinya soal Formula 1 menghilang seiring dengan dimulainya perjalanan dia sebagai mahasiswa jurusan analis merchandiser.

Hidupnya kembali berubah haluan setelah masa kuliahnya berakhir. Tak ada sangkut-paut dengan merchandiser setelahnya. Mikami malah putar setir dengan bergabung ke Capcom sebagai desainer game. Waktu itu 1990 dan dari sana sudah lebih dari 10 game yang ia kerjakan.

Di Capcom, kisahnya terjadi secara kebetulan. Malah, ini sama sekali tak pernah hadir dalam benaknya. Mikami mungkin sangat menyukai video game. Masa kecilnya ia warnai dengan Space Invaders dan game-game arkade. Memasuki remaja, ia bahkan punya Famicom.

Namun, menjalaninya sebagai karier bukanlah suatu pilihan. Sampai pada suatu hari Mikami mendapat brosur lowongan kerja Capcom dari seorang kawan. Kebetulan, Mikami baru saja ditolak oleh perusahaan pabrik baja Nippon Steel. Tanpa ia duga, pekerjaan tersebut berhasil ia peroleh.

Maka dimulailah perjalanan Mikami di Capcom.

Bukan Pencipta Resident Evil

Dari banyak karyanya, Resident Evil boleh jadi yang paling fenomenal. Adapun, bagi Mikami sendiri, ada sedikit unsur sentimental di balik hadirnya game itu. Sebab, ternyata, ia adalah maniak horor. Semua yang berbau horor, entah game atau pun film, sudah pasti jadi santapannya.

Baca juga:  4 Hal yang Bisa Kita Pelajari dari Resident Evil Village

Resident Evil adalah video game yang terinspirasi dari Sweet Home, film horor Jepang akhir 80-an yang kemudian digarap menjadi game berjudul serupa. Tokuro Fujiwara yang pertama kali mencetuskannya. Namun, selama proses pengembangan, Fujiwara menyerahkan mandat penuh kepada Mikami. 

Hal utama yang lantas ia soroti ketika menggarap Resident Evil adalah tak ingin sekadar menjadikan hantu sebagai musuh. Beberapa orang mungkin menyimpan ketakutan yang besar. Mikami bahkan juga seperti itu. Hanya, menurut dia, sekadar hantu tak cocok dijadikan sebagai musuh dalam game.

Kalau begini, Resident Evil tak akan mengambil jalan yang sama dengan Sweet Home. Untung bagi Mikami, jajaran tim setuju. Begitu pula dengan Fujiwara.

“Saya pikir, untuk ukuran game, tidak akan ada perasaan gembira yang nyata jika musuhnya hantu. Ketika saya menyadarinya selama perencanaan perkembangan, saya akhirnya membuang ide tersebut dan menemukan jenis musuh yang berbeda,” ujar Shinji Mikami kepada Gamesradar.

Shinji Mikami.
Foto: Bathesda

Banyak ide yang terpikir. Yang pasti, ia enggan bikin para gamer menembaki roh. Pada masa itu, ide seperti ini terdengar klise, meski tergolong baru di ranah game. Setelah berbagai pertimbangan, ia akhirnya memilih zombie untuk muncul sebagai musuh di Resident Evil.

Yang jadi inspirasi Mikami adalah film Dawn Of The Dead (1979). “Saya menyukainya,” kenang Mikami. 

Baca juga:  Cara Menghabiskan Uang yang Enggak Bikin Stres kayak Kripto: Main Game

Jika di film orang-orang hanya merasakan sensasi ketegangannya, Mikami ingin mereka bisa mengalami langsung pengalaman tersebut. “Saya pikir perbedaan antara game horor dan film horor ini bisa menjadi sesuatu yang luar biasa,” tuturnya.

Untuk mewujudkan semua itu, Mikami tak hanya bertumpu pada keberadaan zombie. Ia ingin segala sesuatu yang hadir sebagai pendukung di sana, terutama ‘Mansion’ yang jadi latar tempat game, didesain sedemikian rupa agar tercipta kesan menyeramkan.

Berbagai formula khas film horor juga ia munculkan. Pemain akan menemukan derap langkah yang memberi kesan tegang, background musik yang seram, dan berbagai jenis suara lain. 

Juga satu lagi: Mikami bersama timnya ingin menghadirkan banyak jumpscare. Formula ini tampak pas mengingat Resident Evil hadir dengan pendekatan first-person. Dengan begini, gamer bisa merasakan semua ketegangan yang terjadi seolah-olah tengah hadir langsung di sana.

“Kami menggunakan suara seperti erangan zombie serta langkah kaki mereka sebagai petunjuk sepanjang alur permainan. Namun, bahkan jika Anda tahu sebelum melihat bahwa zombie akan datang, kami membuat semacam titik buta sehingga pemain tidak akan dapat melihat zombie dengan segera.”

Baca juga:  Tanpa Sweet Home, Takkan Ada Resident Evil

“Ini akan menimbulkan perasaan tidak enak yang menyebabkan pemain merasa takut. Saya berpikir jika musuh hanya menakutkan karena kemungkinan ‘game over’, itu tidak akan cukup bagi saya. Ketakutannya harus lebih dari itu,” kata Mikami.

Semua yang Mikami inginkan pada akhirnya berbuah hasil. Lewat Resident Evil, ia mampu memberi kesan seram yang tak pernah hadir di game lain sebelumnya. Game ini juga sukses secara komersil, sekaligus memicu studio-studio lain untuk mengembangkan game survival horor serupa.

Melihat semua capaian itu, tak ada hal lain kecuali rasa bangga dalam diri Shinji Mikami. Satu-satunya hal yang bikin ia sebal adalah fakta bahwa game bikinannya lebih dikenal sebagai Resident Evil (judul versi Amerika), bukan Biohazard yang notabene judul asli game tersebut.

***

Beli voucher Steam Wallet, ya, di itemku! Udah hemat, gampang, cepat pula. Langsung cus aja!

Untuk press release, iklan, dan kerja sama lainnya dapat mengirim email ke anggasp@fivejack.com.