Seberapa Efektif DRM untuk Berantas Pembajakan Game?

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
DRM adalah teknologi proteksi yang bertujuan mengurangi pembajakan produk digital, termasuk video game. Seberapa efektif teknologi ini?

Kalau pembajakan adalah seekor ulat, ia seperti ulat yang sulit dibunuh meski sudah menggunakan bermacam-macam racun. Hampir semua negara memiliki undang-undang khusus untuk mengatasinya. Namun, pembajakan masih saja terjadi. Bahkan tanpa pandang sembunyi.

Coba deh kami tanya, sudah berapa kali Anda membeli game bajakan di penjual kaset dekat terminal? Kapan terakhir Anda mengunduh game di laman-laman penyedia game-game gratis? Sudah berapa jenis keygen dan crack yang pernah Anda gunakan?

Digital Rights Management alias DRM hadir untuk mengatasi segala jenis pembajakan tersebut. Ia adalah teknologi sistematis dengan fungsi melindungi produk-produk digital yang memiliki hak cipta di dalamnya, termasuk video game.

Konsepnya, DRM akan memberi semacam batasan untuk beberapa aspek tertentu pada sebuah aplikasi ataupun game.

Anda pernah membeli aplikasi dan diminta untuk memasukkan kode aktivasi? Atau membeli sekeping game tetapi hanya bisa diinstal empat hingga lima kali? Semua itu adalah beberapa mekanisme DRM, begitu pula dengan region lock dan autentikasi online.

Penerapan fungsi tersebut amat penting sebab pembajakan dapat menimbulkan kerugian dalam jumlah tak sedikit. Pada 2014, misalnya, industri game mengalami kerugian hingga 74 miliar US dolar akibat pembajakan.

Baca juga:  Belajar Gamifikasi Lewat Steam, Game Terbaik Valve

Namun, seberapa efektif DRM dalam mengurangi pembajakan video game?

Efektivitas DRM

Hampir semua video game kenamaan masa kini menggunakan DRM. Beberapa layanan penyedia game juga melakukan hal serupa untuk melindungi game-game mereka dari aktivitas pembajakan. Steam termasuk di antaranya.

Sejak awal berdiri layanan yang berada di bawah naungan Valve itu memang begitu serius memberantas pembajakan. Kuncinya terletak pada akun. Buat pemain, akun tersebut memberi banyak kebebasan tetapi juga terikat oleh pembatas yang amat ketat.

Anda bisa membuka game yang didapatkan lewat Steam di komputer berbeda. Walau demikian, game tersebut baru bisa Anda buka jika menggunakan akun yang sama. Anda pun tak bisa memainkan game yang sama secara berbarengan.

Kalau begitu, apakah harus online setiap saat? Tidak juga. Game yang memang tersedia offline bisa Anda mainkan tanpa harus terkoneksi ke internet. Hanya saja, Anda tetap harus login setidaknya dua pekan sekali untuk autentikasi ulang.

Jadi, bisa dibilang bahwa saat mengunduh game di Steam, Anda tak benar-benar memilikinya, melainkan sebatas membeli akses untuk bermain.

Baca juga:  Crunch, Kultur Kerja Lembur yang Kerap Diterapkan Studio Game

Konsep ini menyebalkan, tetapi Anda tak bisa lepas sepenuhnya. Soalnya, beberapa game yang tersedia secara retail lewat salinan fisik seperti Fallout 4 juga menerapkannya. Saat membeli salinan game itu, Anda hanya mendapatkan sekitar 20% bagian game. Nah, sisanya baru bisa Anda peroleh setelah autentikasi melalui Steamworks.

Konsep demikian sebetulnya tak benar-benar memberantas pembajakan. Menurut ITIF, 90 persen gamer masih membajak, dan 20 persen di antaranya mencapai lebih dari 50 game. Meski begitu, ini cukup untuk mengurangi aktivitas membajak. Ujung-ujungnya, keuntungan studio bisa terselamatkan.

Menurut laporan SuperData dari Nielsen, penjualan game PC meningkat hingga 56%. Dari yang tadinya USD 363 juta menjadi USD 567 juta. Adapun, penjualan game konsol meningkat sebanyak 64% dari USD 883 juta ke USD 1,5 miliar.

DRM mempersulit pembajak

Para pembajak dan penggunanya yang masih beredar jadi bukti bahwa hal ini belum bisa lenyap sepenuhnya. Yang lantas DRM berikan, selain melindungi keuntungan perusahaan, adalah dengan mempersulit pembajak menjalankan aktivitasnya.

Pada September 2014, Denuvo mengembangkan teknologi DRM bernama Denuvo Software Solution GmbH. Mereka sesumbar bahwa teknologi ini bisa melindungi game apapun. Denuvo bahkan mengklaim para pembajak tak akan bisa menembusnya.

Baca juga:  Kasus Cyberpunk 2077 dan Gugatan Hukum Lain di Dunia Game

Klaim itu akhirnya tak betul-betul terbukti sebab para pembajak tetap berhasil menemukan celah, termasuk pada game Just Cause 3. Tapi, perlu dicatat bahwa pembajakan baru tersebar dalam waktu tiga bulan, sedangkan game-game lain bisa dibajak dalam hitungan hari atau bahkan jam.

3DM selaku salah satu forum game bajakan terbesar di dunia lantas bersuara.

“Baru-baru ini banyak gamer yang menanyakan tentang update crack Just Cause 3, yang menjadi trending topic di forum. Tahap akhir nge-crack merupakan yang paling sulit, dan Jun (game cracker) hampir menyerah. Saya masih percaya kalau game ini bisa ditembus.”

“Namun dengan semakin canggihnya tren enkripsi teknologi dalam dunia game, tidak menutup kemungkinan dalam estimasi waktu 2 tahun, dunia akan bebas dari game bajakan,” demikian ucap pendiri 3DM.

Ia mengucapkannya pada 2016. Sekarang 2021, sudah lebih dari 2 tahun yang artinya ucapan 3DM belum terbukti. Namun, setidaknya teknologi proteksi bernama DRM mampu mempersulit pembajakan sekaligus melindungi keuntungan perusahaan game.