Satu Lagi dari Indonesia: Mojiken Studio

Pada ajang Tokyo Game Show 2020, Mojiken Studio meraih dua penghargaan sekaligus lewat game A Space For The Unbound.
When The Past Was Around Mojiken Studio
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Tokyo Game Show (TGS) 2020 bulan lalu jadi cerita menyenangkan buat Indonesia. Pasalnya, ada dua studio game Tanah Air yang mencuri perhatian. Yang pertama Khayalan Arts lewat Samudra. Kedua, ialah Mojiken Studio.

Mojiken meraih tepuk tangan berkat A Space For The Unbound. Ini adalah game bergenre slice-of-life yang unsur Indonesia-nya begitu kental. Jika ditilik, latar yang dibawa mirip-mirip Indonesia pada 1990-an.

Game itu bercerita tentang Atma dan Raya. Syahdan, keduanya adalah siswa SMA yang akan segera lulus. Mereka mulai jadi karib saat bertemu pada sebuah fenomena aneh di kota tempat mereka tinggal.

Jalan cerita demikian disajikan lewat grafis bergaya pixelart. Gaya ini pula yang mengantarkan Mojiken meraih penghargaan Best Art pada TGS 2020. Tak cuma itu, mereka juga menang di kategori Grand Prix.

Baca juga:  Asosiasi Game Indonesia: Karena Membangun Industri Game Adalah Kerja Kolektif

Nah, bagi kamu yang ingin merasakan keseruannya dapat menjajal versi demo di Steam. Yup, A Space For The Unbound hadir di PC. Rencananya, game ini juga akan rilis untul PS4, Xbox One, dan Nintendo Switch.

Tapi sebelum itu, ada baiknya kamu sedikit mengenal Mojiken Studio terlebih dahulu.

Bermula dari Studio Ilustrasi

Mojiken tak langsung berdiri sebagai studio game. Pada mulanya studio asal Surabaya ini adalah studio yang menyediakan jasa ilustrasi. Sehari-hari, yang mereka kerjakan adalah proyek outsource.

“Tapi kami menyadari bahwa game merupakan medium yang paling dapat mewakili pesan-pesan yang ingin kami sampaikan dalam karya. Akhirnya sejak 2013 Mojiken Studio terbentuk, pada 2017 kami memutuskan untuk memiliki badan hukum yang resmi,” tutur salah satu perwakilan Mojiken, dilansir IDN Times.

Double Fine, Vlambeer, Vanillaware, dan Toge Productions adalah tiga studio yang punya pengaruh kuat terhadap Mojiken. Namun, boleh jadi nama terakhir yang punya posisi paling krusial bagi mereka.

Baca juga:  Apakah Video Game Termasuk Karya Seni?

Itu adalah studio game asal Tangerang yang pernah menggarap seri Infectonator. Pada 2017, studio ini menjadi investor Mojiken lewat sejumlah dana yang sayangnya tak dipublikasikan.

Toge Productions tak sekadar memberi bantuan dalam bentuk dana. Mereka juga membantu Mojiken membangun badan usaha resmi pada 2017. Sejak saat itulah Mojiken berkembang pesat sebagai studio game.

Sebelum akhirnya mengenalkan A Space For The Unbound, Mojiken sebetulnya sudah mencuri perhatian lewat judul-judul game lain. Salah satunya Ultra Space Battle Brawl (USBB).

Game yang rilis untuk Switch dan PS4 itu memiliki mekanik dasar Pong. Untuk pembeda, Mojiken memadukannya dengan game fighting sehingga terdapat semacam health point sebagaimana game-game laga.

Baca juga:  Fakta soal Own Games, Developer Indonesia yang Bermula dari Sebuah Lomba

Juga satu lagi: Mojiken menambahkan lagu-lagu dangdut funkot (campuran funky house dan dangdut) sebagai latar selama memainkan game tersebut. Tentu saja ini tak ditemui di game lain sehingga jadi nilai plus.

“Ketika sedang mengerjakan aset-aset USBB, saya memutar lagu yang bersemangat untuk melawan kantuk. Nah, rupanya dangdut funkot cukup mempan untuk membuat saya terus terjaga dan bersemangat,” ucap Mojiken.

Upaya Mojiken Studio menambahkan dangdut yang notabene musik Nusantara tentu bakal membuat Indonesia makin dikenal dunia. Hal demikian pula yang tampaknya mereka coba lewat A Space For The Unbound meski lewat cara berbeda.