Rami Ismail, Developer Muslim yang Aktif Memperjuangkan Keberagaman

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Rami Ismail adalah developer Muslim yang berdarah Mesir dan Belanda. Selain membuat game, dia aktif memperjuangkan keberagaman di video game.

Semua orang punya momen menentukan dalam hidup dan buat Rami Ismail, hal tersebut adalah perkenalannya dengan papan catur dan game QBasic Gorillas.

Perkenalannya pada catur terjadi ketika masih SD. Waktu itu, salah seorang guru mengenalkan olahraga tersebut kepada Ismail dan siswa lain untuk melatih konsentrasi. Buat Ismail, ini tak hanya catur pertama yang dia mainkan, tetapi juga perkenalannya dengan segala jenis sistem permainan.

Beberapa waktu kemudian, orang tuanya membeli satu-satunya komputer untuk keluarga. Di komputer itu Ismail bertemu dengan video game pertama yang dia mainkan sekaligus yang membuatnya terpikat setengah mati pada pemrograman: QBasic Gorillas, game karya IBM yang rilis pada 1991.

Jika hari ini kita mengenal Ismail sebagai salah satu developer game indie ternama di dunia, sudah barang tentu dua momen yang terjadi ketika masih SD itu akan selalu dia sebut. “Saya termasuk siswa yang benar-benar nakal pas masih SD,” tutur Ismail, dilansir Gamestoplayfree.

Nama Ismail mulai melejit tatkala mendirikan Vlambeer, studio game indie yang berbasis di Ultrecth, Belanda. Studio ini dia bangun bersama seseorang bernama Jan Willem Nijman. Maka pada tiap sesi perkenalan, Ismail akan menyebut diri sebagai ‘setengah dari Vlambeer’, sebab setengahnya lagi adalah Nijman.

Keduanya pertama kali bertemu saat menuntut ilmu di Utrecht School of the Arts pada 2008. Namun, hanya dua tahun mereka di sana. Pada 2010 Ismail dan Nijman memutuskan keluar karena ingin fokus mengembangkan studio game yang sudah mereka jalankan sembari kuliah.

Baca juga:  Sekarang, SSD 250GB Bahkan Tak Cukup untuk Menginstal Modern Warfare
vlambeer, studio bikinan rami ismail
Logo Vlambeer.

Semua ini erat kaitannya dengan perlakuan yang mereka terima dari tempat kuliah. Karena sempat mengembangkan game saat masih berstatus mahasiswa, segala karya bikinan mereka malah diklaim sebagai milik kampus. Ismail dan Nijman akhirnya cabut.

Sebuah keputusan berani dan agak nekat tetapi mereka mendapat hasilnya. Sejak keluar dari kampus, lebih dari lima game mereka kembangkan. Salah satu yang paling populer adalah Ridiculous Fishing (2013). Rilis untuk iOS, game ini sukses besar baik dari segi kritis maupun keuangan.

Saking suksesnya, Ismail sampai berkata, “Kami enggak perlu khawatir tentang uang untuk sementara waktu.”

Vlambeer sayangnya tak bertahan lama. Setelah merilis game hits Super Crate Box dan Luftrauser, studio ini sempat istirahat pada 2015 sebelum akhirnya benar-benar memutuskan tutup lima tahun berselang. Itu berarti hanya sepuluh tahun mereka bertahan.

Walau begitu, Ismail tak lantas keluar dari dunia game. Ia masih berkecimpung di sana. Di Twitter, Ismail yang keturunan Belanda dan Mesir ini aktif memperjuangkan keberagaman di ranah game, terutama soal minimnya representasi Muslim.

Dalam wawancara dengan IGN, Rami Ismail menilai bahwa masalah paling utama adalah karena jumlahnya yang cuma segelintir. Dengan kondisi seperti itu, siapa pun bakal sulit untuk mengidentifikasinya secara penuh. Padahal, kata Ismail, seperempat penduduk muka bumi ini adalah Muslim.

Assassin’s Creed sempat menampilkan Layla Hassan, wanita setengah Mesir yang tinggal di Amerika Serikat. Kisahnya seperti saya, setengah Mesir, dan besar di negara Barat. Aneh karena saya merasa begitu dekat dengan sebuah karakter meskipun dia adalah dia dan saya adalah saya,” ujar Ismail. 

Baca juga:  Selamat Datang di Dunia yang Sesak oleh Game Battle Royale

“Tapi itu justru membuat saya menyadari bahwa bagi kebanyakan Muslim di seluruh dunia, apakah mereka orang Arab atau bukan, seorang karakter yang juga seperti mereka adalah hal baru, misalnya Altair atau Farrah dalam Call of Duty,” papar sosok berusia 32 tahun itu.

Ini bukan hanya perkara karakter. Soal budaya pun, Ismail merasa representasinya masih sangat kurang. Beberapa game kerap menyelipkan Natal atau perayaan keagamaan lainnya, tetapi sulit menemukan hal yang sama untuk Idul Fitri dan Ramadhan.

Tentu tak benar-benar nihil. Game Assasin’s Creed yang Ismail sebut tadi contohnya. Selain menampilkan protagonis asal Syria, game tersebut juga berhasil menampilkan detail Yerusalem, Agra, Israel, dan Damaskus pada abad ke-12. 

Ada pula karakter seperti Faridah Malik dari game Deus Ex, yang tidak digambarkan sebagai seorang penjahat. 

Masalahnya, sebagian besar game lain kerap menggambarkan Muslim lewat cara yang salah. Yang paling umum adalah dengan menyelipkan satu atau sekelompok karakter yang bisa memperkuat anggapan bahwa Muslim adalah teroris dan wajib kita bunuh.

Dalam Konferensi Developer Game di San Fransisco, empat tahun lalu, Ismail lantas mengkritik keras kondisi ini. “Darah Muslim adalah yang paling murah di bumi saat ini. Sementara darah Amerika yang paling mahal. Itu yang kalian semua buat di Call of Duty: Tembak orang Arab,” ujar dia.

Baca juga:  6 Game dengan Ukuran Besar yang Astaghfirullah

Ismail sejatinya paham bahwa ini perkara sulit. Pasalnya, developer hanya bisa mengisahkan satu cerita untuk sebuah game. Jadi, kata Ismail, Muslim seperti apapun yang coba ditampilkan, hal tersebut pada dasarnya hanya akan mewakili sebagian kecil dari seorang Muslim.

Satu-satunya cara untuk memperbaiki kondisi ini adalah dengan menampilkan Muslim dari berbagai ras, cerita, dan latar belakang. 

“Seperti Layla Hassan dalam Assassin’s Creed yang terasa sangat dekat dengan saya. Saya berharap lebih banyak hal seperti ini di masa depan, untuk kita semua,” tutur Ismail.

Beberapa pengembang game tampak mulai berbenah. Yang paling mencolok adalah hadirnya tentara Arab bernama Farrah di Call of Duty: Modern Warfare. Padahal, di edisi sebelumnya Muslim dan Arab digambarkan lewat cara yang cenderung negatif.

“Melihat mereka mencoba sesuatu seperti ini membuat saya sangat berharap soal representasi semua orang Arab dan Muslim,” kata Ismail.

Meski demikian, perjuangan Rami Ismail belum selesai. Ia mengatakan bahwa keberagamaan adalah sesuatu yang harus terus kita lakukan. Bahkan ketika ia masih aktif membuat game, Ismail lebih mengutamakan keberagaman ketimbang game itu sendiri.

“Pencarian saya bukanlah membuat setiap orang di bumi membuat game. Pencarian saya adalah memastikan bahwa setiap orang yang ingin membuat game merasa diterima di sini dan merasa aman di sini. Itulah pertarungannya,” ucapnya kepada Mcvuk.

Nikmati pengalaman gaming yang lebih seru dengan top-up Steam Wallets termurah se-Indonesia di itemku