Nasib Sial Punya Laptop Kentang

Bersyukurlah kamu yang punya laptop bagus. Yang laptopnya kentang? Sabar aja.
Screenshot laptop
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah punya laptop atau PC kentang. Betul sekali, yang tersial itu jadi milik saya.

Sejak dulu hingga sekarang, omongan-omongan terkait laptop tak pernah jauh dari spesifikasi. Saat membelinya kamu akan memerhatikan hampir semua aspek. Body, sih, belakangan, yang penting itu jeroannya. RAM-lah, kapasitas penyimpanan, kartu grafis, prosesor, dan sebagainya.

Memerhatikan semua tetek-bengek tersebut amat penting karena itulah yang menentukan performa sebuah perangkat. Yang punya spesifikasi bagus bakal sangat menunjang untuk aktivitas berat semisal main game hingga editing video. Sebutannya high-end. Atau laptop ‘dewa’ kalau kata orang-orang.

Yang namanya ada ‘high’, berarti ada ‘low’ juga dong. Laptop yang seperti ini biasanya punya spesifikasi minimal: RAM 2GB ke bawah, Prosesor AMD dan Intel jadul, dan penyimpanan yang tak lebih dari 512GB. Jika laptop ‘high-end’ disebut dewa, laptop ‘low-end’ kerap diolok sebagai laptop kentang.

Sebelum saya punya laptop yang agak bagusan seperti sekarang, laptop kentang itulah yang jadi kawan saya sehari-hari.

Satu hal yang bikin saya terjerat dalam situasi menyebalkan tersebut: Yang membelinya bukan saya. Mau bagaimana lagi, waktu itu saya masih berstatus pelajar sehingga segala keperluan sekolah dan kampus masih bertumpu pada orang tua, termasuk soal laptop. 

Baca juga:  Termasuk Gigapurbalingga, Inilah Situs Download Game PC Gratis

Jelas saja keduanya laptop kentang, bahkan untuk memainkan PES 2013 saja lumayan berat. Tapi sebagai anak yang tak berniat menjadi batu, saya tak berani protes. Hehehe.

Laptop pertama yang orang tua belikan untuk saya adalah Axioo, sedangkan yang kedua Toshiba. Saya lupa detail rinci keduanya dan sekarang memang tak pernah saya pakai lagi. Yang satu sudah tak bisa menyala, sedangkan yang kedua kondisinya sudah layak untuk dipensiunkan.

Namun, saya ingat betul bahwa dua laptop itu kerap saya siksa untuk menjajal sejumlah game berat, terutama laptop Toshiba — yang saya pakai selama kuliah. Mulai The Last of Us hingga GTA V, dari Pro Evolution Soccer 2016 sampai FIFA. Dan sebagainya. Saya tak ingat semua.

Tentu, semua game itu tak bisa berjalan dengan lancar. Bahkan PES 2016 sudah terasa agak lag sejak di bagian menu. Sudah ketebak, sih, apalagi label spesifikasi pada menu setting game tersebut adalah ‘bad’ semua. Tapi sebagai seorang Virgo sejati, saya tak patah arang.

Baca juga:  Epic Games Lebih Bagus Daripada Steam, Titik

Saya coba mencari cara di internet hingga menemukan tips memainkan game berat di laptop atau PC kentang berikut ini:

  • Mengubah flash disk menjadi RAM tambahan
  • Menonaktifkan driver audio
  • Menggunakan tweak khusus untuk meningkatkan FPS
  • Bermain sambil melepas baterai
  • Menambah RAM

Cuma satu dari empat trik tersebut yang bekerja, yakni menonaktifkan driver audio. Namun, itu cuma sebatas membuat lagnya agak berkurang. Secara keseluruhan, jalannya game-game itu masih tidak manusiawi. Yang paling mendingan ya PES 2016.

Dengan setting low dan driver audio yang dimatikan, saya bisa memainkan game tersebut dengan lumayan lancar. Saya bahkan sempat menjalani dua musim Master League bersama Bayern Muenchen di game yang kini berubah nama jadi eFootball itu. 

Semua berubah saat suatu hari laptop saya mulai sering mengeluarkan panas luar biasa. Terlebih, ada suara yang lumayan bising terdengar dari bagian mesinnya. Di titik ini saya sadar bahwa saya terlalu memaksakan kinerja laptop burik bermerek Toshiba itu.

Jika di dunia laptop ada yang namanya eksploitasi tenaga kerja, rasa-rasanya saya telah mengeksploitasi laptop tersebut hingga ke tingkat yang teramat berlebihan. Alhasil dengan terpaksa saya mengucapkan salam pisah kepada PES 2016, terlebih kala itu saya makin sibuk.

Baca juga:  8 Game Online PC Terbaik 2021 yang Wajib Kamu Mainkan

Untungnya, laptop tadi masih bisa berjalan cukup lancar. Saya bahkan masih membawanya ke mana-mana, masih memakainya untuk berbagai macam keperluan, masih menggunakannya untuk presentasi. Saya juga sempat menyelesaikan tugas skripsi dengan laptop tersebut.

Terkadang dalam proses pengerjaan skripsi itu, saya masih merasakan panas dan suara bising berlebih seperti sebelumnya. Panas dan suara tersebut seperti pengingat bagi saya bahwa kita tak seharusnya memaksakan sesuatu tidak pada tempatnya. Dalam hal ini soal laptop.

Jika ingin bermain game, belilah laptop atau PC yang betulan membawa embel-embel gaming. Kalau budget kamu belum cukup, ya, sabar aja. Atau kamu bisa melepas rasa penasaran lewat cara yang kerap saya lakukan: Menonton gameplay di Youtube. Dengan cara-cara seperti itu, eksploitasi tenaga laptop secara berlebihan bisa terhindarkan.

***

Nikmati pengalaman gaming yang lebih seru dengan Steam Wallet termurah se-Indonesia di itemku!