Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
UFL jadi angin segar di tengah game genre sepak bola yang itu-itu saja. Dalam waktu-waktu ke depan, kita tak cuma akan melihat PES (eFootball) dan FIFA.

Sebuah teaser game bernama UFL mencuri perhatian publik Gamescom 2021. Teaser itu benar-benar berfungsi sebagai ‘penggoda’. Kesannya mentah sebab cuma terlihat sekelibat. Tak ada gameplay memukau. Yang justru menarik adalah perkara sederhana: Karena menampilkan teaser game sepak bola.

Yep, UFL adalah game sepak bola.

Semua tahu genre tersebut selama ini adalah tentang PES (saya masih belum terbiasa menyebut eFootball) dan FIFA. Perseteruan keduanya sudah mendarah daging. Pada awal awal dekade 2000-an PES mendominasi, sedangkan dekade berikutnya menjadi milik FIFA.

Tak ada nama lain. Itulah kenapa, kehadiran UFL amat menarik sekaligus mengejutkan. Bisa-bisanya Strikerz Inc. selaku developer sangat berani menghadirkan game dengan genre sepak bola, genre yang selama dua dekade terakhir ini hanya mengenal dua nama.

Meski begitu, Strikerz Inc. tak muncul tanpa perencanaan matang. Mereka sangat tahu medan yang bakal dijejaki dan karena itu segala sesuatunya sudah dirancang sejak jauh hari. Game ini juga sudah memiliki lisensi 5000 pemain yang kian menunjukkan keseriusan mereka.

Jadi, UFL sangat layak untuk kita nantikan, terlebih jika menyimak sejumlah fakta yang kami rangkum berikut ini.

Lahir dari ketidakpuasan pemain

Dalam wawancara dengan IGN, Eugene Nashilov selaku CEO Strikerz Inc. mengatakan bahwa UFL mereka rancang selama lima tahun. Dalam proses itu, salah satu yang mereka lakukan adalah melakukan studi mendalam serta menganalisis kebutuhan dan permintaan para gamer.

Baca juga:  Wawancara Imajiner Kazuki Ito: Saya Sedih PES Ganti Nama

Perlu diketahui pula bahwa para pengembang UFL adalah gamer sekaligus pencinta sepak bola. Jadi, bisa dibilang UFL lahir dari rasa ketidakpuasan gamer terhadap game sepak bola yang sudah saat ini. Oleh karena itu, mereka ingin memberi perbedaan.

Belum ada penjelasan rinci dari Strikerz terkait seperti apa kebutuhan gamer yang ingin mereka sajikan itu. Yang jelas, jika memang demikian, setidaknya mereka coba melakukan sesuatu yang belakangan ini diabaikan oleh PES dan FIFA, dua game yang terlalu berorientasi bisnis.

Hal tersebut juga membuka peluang bahwa UFL bakal menjadi game yang coba memperbaiki kekurangan yang ada pada para pendahulunya. Tentu, ini jadi faktor yang bikin UFL makin layak untuk kita nantikan. Lagi pula siapa yang tak bosan dengan PES dan FIFA?

Baca juga:  EA Sports Mau Ganti Nama FIFA, Ikuti Jejak eFootball?

Game sepak bola masa kini terlalu stagnan

Sepertinya sebagian dari kita sepakat bahwa game sepak bola saat ini cenderung stagnan. Yang berubah pada tiap edisinya tak lebih dari sekadar peningkatan grafis, pembaruan gameplay, dan segala hal terkait pemain dan klub (jersi baru, perpindahan pemain, dsb.).

Tim pengembang UFL sangat memahami kondisi itu. Mereka menilai game sepak bola saat ini seolah terkekang dalam tren yang sudah berlangsung begitu lama dan bahkan terkesan malas memperbarui diri. Nah, lewat UFL, mereka menjanjikan banyak inovasi.

Fair to play

UFL membawa tagline Fair to Play. Lewat frasa itu, Strikerz ingin menjelaskan bahwa UFL adalah game yang mengedepankan pertandingan yang kompetitif dan adil. Kemenangan hanya bergantung pada keterampilan bermain game masing-masing, begitu penjelasan Strikerz.

Baca juga:  Soal eFootball 2022, Haruskah Kita Bersabar seperti Saat PES 2014?

Penjelasan itu sepertinya merujuk pada salah satu mode yang ingin Strikerz bawa, sebuah mode yang mirip dengan Ultimate Team-nya FIFA. Yang jadi pembeda, Strikerz tak akan coba menguras dompet pemain habis-habisan sebagaimana yang EA lakukan lewat FIFA yang terkesan pay-to-win.

Tak hanya soal konten-konten di dalamnya, UFL bahkan bakal tersedia secara gratis alias free to play untuk semua perangkat. Ini semakin menegaskan keinginan mereka untuk tidak menguras dompet pemain.

FIFA butuh saingan baru

Konami baru saja mengubah nama PES menjadi eFootball. Tak hanya nama, perubahan ini juga menyangkut strategi dan tak menutup kemungkinan konten game secara keseluruhan. Terlebih, Konami menyebutkan bahwa eFootball bakal menjadi game free to play.

Perubahan itu boleh jadi respons Konami atas ketertinggalan mereka dari FIFA. Baik dari segi popularitas, kualitas, hingga penjualan mereka kalah jauh. Dengan begini, FIFA berpeluang untuk makin dominan dan bisa saja menjadi penguasa tunggal game sepak bola.

Nah, UFL bisa mencegah kondisi tersebut. Meski begitu, kita mesti menunggu hingga gamenya benar-benar rilis terlebih dahulu. 

***

Beli voucher PSN Card ya di itemku! Udah hemat, gampang, cepat pula. Langsung cus aja!