Mengapa Banyak Tim Esports Indonesia Menggunakan Brand Ambassador?

Kami membahas secara singkat soal penggunaan brand ambassador oleh tim-tim esports Indonesia. Apa, sih, alasannya?
1200x675-18-1
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Di usia yang sudah 21 tahun, Nona Berlian tak lagi dikenal sebagai Wati dalam sinetron Ronaldowati. Ia kini mendaku sebagai esports enthusiasts. Status itu bahkan ia cantumkan di bio Instagram-nya bersama satu keterangan lain: ‘Boom Esports’s Brand Ambassador’.

Perempuan kelahiran Sidoarjo ini mulai menjadi brand ambassador Boom Esports, salah satu tim esport Indonesia, pada Juni 2019. Sejak saat itu feed Instagram-nya dipenuhi berbagai unggahan terkait tim tersebut, yang sebagian besarnya berbentuk promosi.

“Yuk, dukung tim Free Fire Boom Id di grand final Summer League pada tanggal 18 Agustus di Garena Office,” Nona menulis pada salah satu unggahan Instagram-nya.

Tren brand ambassador (selanjutnya disebut BA saja) di tim esports sudah berlangsung sejak beberapa tahun lalu. Namun, ia baru marak dua tahun terakhir. Kamu mengenal Angelica dari EVOS sebagai salah salah satu wajah lama, lalu ada nama-nama lain seperti Rachel Florencia hingga Shelly Oktivia.

Baca juga:  Perlukah Cut-scene di Video Game?
Rachel Florencia – Morph

Tugas mereka tak berbeda dengan BA sebuah perusahaan pada umumnya: Meningkatkan brand awareness hingga mengikat para konsumen (baca: fans) loyal. Terlebih, menurut Andersson (2009), penggunaan BA tidak hanya hemat biaya, tetapi juga lebih efektif dibandingkan alat pemasaran lain.

Perkara ini jadi penting mengingat sebagian tim esport, khususnya di Indonesia, adalah tim yang belum lama berdiri. Tak perlu jauh-jauh menyebut timnya. Esports sebagai suatu cabang olahraga sendiri bahkan baru marak belakangan ini, setidaknya sejak ekosistem game mobile tumbuh pesat.

Makanya, tim-tim esports di Indonesia memilih orang-orang terkenal untuk menjadi BA. Ada banyak sekali indikator keterkenalan tersebut, tetapi sebagian besar BA adalah para wanita yang terbilang populer di media sosial dengan ratusan ribu followers.

Juga satu lagi: Dianggap berparas cantik.

Baca juga:  Sejarah EVOS vs RRQ di MPL ID, El Clasico-nya Esports Indonesia

Hingga hari ini metode demikian terbilang efektif. Apalagi, para pegiat game adalah mereka yang aktif di media sosial dan sebagian besarnya adalah laki-laki. Persentasenya, seperti dikutip Kompas, mencapai 56 persen dengan rentang usia 10–50 tahun.

Meski begitu, Gary Ongko selaku bos Boom Indonesia menyebut bahwa ke depannya sangat mungkin ada perubahan tren terkait pemilihan brand ambassador di ranah esports Indonesia. Semua itu tergantung pada perkembangan esports sendiri.

“Masalahnya sekarang kan tim-tim Indonesia belum rutin masuk kompetisi internasional. Mungkin nanti gayanya (pakai talent-talent gadis cantik) bisa berubah kalau udah rutin ikut turnamen-turnamen besar (tingkat dunia),” ucap Gary dalam wawancara dengan Hybrid.

BA atau talent?

Tren BA seolah jadi penegas bahwa setiap tim esports memilikinya. Namun, rupanya ada beberapa tim yang tak menggunakan hal tersebut. Lebih tepatnya, beberapa tim esports kurang setuju dengan penggunaan istilah brand ambassador. ONIC Esports salah satunya. 

Baca juga:  Kilas Balik 2020: 5 Pro Player Esports Terbaik Tahun Ini

Para fans mungkin menganggap Christy Chriselle serta Jessica Jane sebagai sosok-sosok yang pernah menjadi BA ONIC. Akan tetapi, ONIC lebih memposisikan dua perempuan itu sebagai talent. Persoalannya adalah tentang fungsi mereka.

“Kalau di kami enggak nemuin itu. Mungkin dari tim lain ada ya. Kalau kami ga ada. Kami bisa aja punya talent cewek dan dianggap BA sama khalayak luas. Namun, internally, kami sendiri enggak pakai istilah BA,” kata Justin W, Managing Director ONIC.

Apapun sebutannya, tren penggunaan brand ambassador jadi penanda bahwa ranah esports di Indonesia makin menggeliat. Itu adalah cara tiap tim berlomba-lomba mempromosikan diri agar lebih dikenal dan familier di mata masyarakat.