florentino perez
in

Membahas Omongan Florentino Perez soal Perbandingan Game dan Sepak Bola

Kata Florentino Perez, sepak bola semakin terancam karena video game.

Setidaknya dalam waktu dekat, European Super League (ESL) belum akan digelar. Persoalannya adalah tekanan yang datang dari banyak pihak. Di sisi lain, delapan klub peserta sudah mengundurkan diri. Sekarang tersisa empat tim saja, termasuk Real Madrid dari Spanyol sana.

Namun, Florentino Perez selaku Presiden Madrid sekaligus Ketua ESL mengungkapkan bahwa mereka belum menyerah. Jika tidak sekarang, barangkali kompetisi yang konon berdiri demi tujuan finansial itu bakal mereka gelar dalam waktu-waktu mendatang.

Publik lantas bertanya-tanya mengapa Perez begitu getol menyelenggarakan kompetisi tersebut di tengah-tengah banyaknya tekanan. Dalam wawancara dengan El Chiringuito de Jugones, ia akhirnya mengungkapkan bahwa ini tidak hanya tentang finansial.

Lebih jauh, katanya, ini untuk menyelamatkan sepak bola.

“Anak-anak muda tidak lagi tertarik pada sepak bola. Mereka memiliki platform lain untuk mengalihkan perhatian,” kata Presiden Los Blancos itu.

Baca juga:  Valentino Simanjuntak dan Mengapa Komentator (Game) Sepak Bola Terkadang Menyebalkan

“Mereka kini punya video game dan menganggap pertandingan sepak bola terlalu lama. Jadi, kami perlu berovolusi, perlu berubah.”

“Jika anak-anak mengatakan bahwa pertandingan terlalu lama, mungkin kami bisa mempersingkatnya,” sambung Perez.

European Super League - ESL

Semua kaget mendengar ide Perez soal mempersingkat waktu pertandingan. Namun, kita tepikan dulu hal tersebut. Yang akan kita bahas adalah klaim Perez yang berbunyi bahwa video game semakin mengalihkan perhatian anak-anak muda terhadap sepak bola.

Benarkah demikian?

Florentino Perez tak sepenuhnya salah

Berdasarkan data Statista, yang terjadi sebetulnya tidak benar-benar seperti itu. Di Amerika Serikat, misalnya, kelompok usia 18–34 tahun justru mendominasi persentase penggemar sepak bola. Angkanya melampaui kelompok lain dengan usia lebih tua.

Baca juga:  Football Manager Mengajak Kita Menghindari Kesengsaraan Akibat Keuangan Minus

Kelompok serupa juga berlaku untuk video game. Masih dari Statista, kelompok tersebut mendominasi persentase jumlah gamer Amerika Serikat dengan angka mencapai 38 persen. Ini berarti bahwa persebaran usia fans sepak bola dan gamer relatif seragam.

Sebagai catatan, Amerika bukanlah negara sepak bola. Negara ini lebih identik dengan olahraga lain, bahkan industri hiburan seperti video game. Dengan kondisi seperti itu, nyatanya, sepak bola masih cukup menarik di mata mereka yang relatif masih muda.

Meski begitu, omongan Perez juga tak sepenuhnya salah. Belakangan ini video game memang semakin berkembang. Industrinya secara keseluruhan semakin masif. Kita juga mulai akrab dengan agenda-agenda yang basisnya adalah game seperti esports.

Sebagian anak muda sangat akrab dengan kompetisi-kompetisi seperti The International, Intel Extreme Masters, hingga PMGC. Di Indonesia, sementara itu, turnamen-turnamen esports semisal MPL hingga PMPL semakin masif saja perkembangannya.

Baca juga:  Belajar American Football Lewat Retro Bowl

Masuk akal jika kemudian Perez menyimpan kekhawatiran. Terlebih, esports tak memerlukan kontak fisik sehingga sangat cocok digelar di tengah pandemi seperti sekarang. Dengan begini, upaya untuk terus mempopulerkan sepak bola di mata anak muda memang penting.

Namun, ya, bukan dengan menggelar European Super League juga. Masih banyak cara lain yang bisa ditempuh untuk sesuatu yang ia sebut sebagai upaya ‘menyelamatkan sepak bola’ itu. Kira-kira demikian, Pak Florentino Perez.

***

Nikmati pengalaman gaming yang lebih seru dengan voucher PSN termurah se-Indonesia di itemku!

Untuk press release, iklan, dan kerja sama lainnya dapat mengirim email ke anggasp@fivejack.com.

Tinggalkan Balasan

GIPHY App Key not set. Please check settings