Menjadi Masokis di Depan Layar dengan Memainkan Game Super Sulit

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Game mestinya jadi hiburan yang menyenangkan. Namun, kenapa ada orang-orang yang suka-suka saja memainkan game super sulit?

Saat bermain Pro Evolution Soccer 2021 (PES 2021) melawan komputer, kami berani jamin bahwa sebagian dari kalian akan memilih level Superstar alias tingkat kesulitan paling tinggi. Ada lima level lain yang lebih rendah, tetapi kenapa Superstar yang kamu pilih? Sudah merasa jagoan?

Faktanya, sebagian orang memang gemar memainkan game dengan tingkat kesulitan tinggi. Entah yang memang bagian dari game-nya atau sekadar tingkatan level yang tersedia. Mirip-mirip pencinta pedas dan film horor. Sudah tahu menyiksa, masih saja dihajar.

Dark Souls jadi bukti paling nyata. Pada 2016, The Guardian memasukkannya sebagai satu dari 25 game paling sulit sepanjang masa. FromSoftware selaku pengembangnya saja sampai bilang sengaja menciptakan kesulitan itu. Mereka bahkan berharap orang-orang tak bisa menamatkannya.

Walau begitu, Dark Souls tetap laku. Edisi ketiganya menjadi game dengan penjualan tercepat dalam sejarah Bandai Namco selaku publisher game ini, yakni mencapai tiga juta kopi dalam dua bulan pertama. Sekarang, penjualan Dark Souls III sudah mencapai 10 juta.

Baca juga:  Kode Cheat: Kamu Jahat tapi Enak

Selain Dark Souls, masih ada game lain seperti Sekiro: Shadows Die Twice, Super Meat Boy, Ninja Gaiden, hingga God Hand, game yang terkenal bisa bikin stres karena hampir mustahil kamu tamatkan tanpa bantuan kode cheat. Pertanyaannya, kenapa orang-orang suka?

Mengapa orang-orang suka memainkan game super sulit?

Super Meat Boy adalah penghilang stres terburuk yang pernah ada,” begitu tulis akun u/invertedcheese85 di Reddit.

Akun faemir_work sepakat dan mengumpamakannya seperti ini: “Pulang kerja, main Super Meat Boy, lalu merasa lebih stres ketimbang sebelumnya.”

“Ini salah satu game masokis paling terkenal. Saya memainkannya sampai tangan mati rasa saat memegang controller,” akun lain menimpali.

Super Meat Boy sudah lama terkenal sebagai game yang susah minta ampun. Masuk akal jika ada yang menyamakannya sebagai tindakan masokis. Ini istilah dalam seks yang berarti upaya menyakiti diri sendiri atau orang lain untuk mendapatkan kenikmatan.

Desainer game Jesse Schell, dalam Scientific American, mengumpamakan orang-orang yang menyukai game sulit sebagai ‘The Sword in the Stone effect’ (pedang yang tertancap di batu). Menurut Schell, mereka sadar bahwa pedang yang tertancap di batu akan sulit dicabut. Namun, itu justru yang membuat orang-orang tertarik.

Baca juga:  Valentino Simanjuntak dan Mengapa Komentator (Game) Sepak Bola Terkadang Menyebalkan

Yang kemudian membuat mereka rela melakukannya adalah kebeadaan ‘peluang’ yang sebetulnya tak terlihat. Bagaimana jika level ini bisa kita selesaikan? Apa jadinya kalau villain-nya kalah? Buat gamer, peluang seperti itu seolah menjadi motivasi sekaligus menimbulkan harapan, sekecil apapun bentuknya.

Faktanya, game-game super sulit memang menyediakan hal itu. Benar bahwa ia didesain sulit untuk kita tamatkan, tetapi bukan berarti tidak bisa diselesaikan sama sekali. Dark Souls contohnya. Game ini bahkan dipuji karena mampu membangun pengalaman sulit dan potensi meraih kemenangan dalam tingkat yang sama.

Lagi pula, meski memang sulit, sebagian besar game memungkinkan kita untuk mengulang dari check point terakhir tiap kali gagal pada suatu misi. 

“Itu (mencabut pedang dari batu) baru bisa terjadi jika kita bekerja atau berpikir, bahkan berlatih lebih keras,” ungkap Schell.

Baca juga:  Runtuhnya PES, Kemenangan FIFA

Scott Rigby dari lembaga riset Immersyve punya pandangan lebih general. Dia bilang, keinginan memainkan game-game sulit adalah sifat dasar manusia untuk selalu menyukai tantangan. Ini salah satu upaya mengembangkan kemampuan diri sendiri. Terlebih, ada perasaan lega dan senang tiap kali hal sulit kita selesaikan.

“Ini kebutuhan yang telah memberi energi kepada kita selama ribuan tahun untuk terus mengeksplorasi, berinovasi, dan mengatasi batasan baru,” ucap dia.

Walau begitu, kata Rigby, jumlah orang-orang yang masokis dalam bermain game sebetulnya tidak sebanyak itu jika dibandingkan dengan ‘gamer biasa’, setidaknya tidak seperti yang orang-orang perkirakan.

“Ini membuktikan bahwa (game) yang sulit ibarat punya nilai khusus. Ada sebagian kecil dari keseluruhan populasi gamer yang benar-benar menikmati game sulit untuk memuaskan kebutuhan psikologis mereka,” ungkap Rigby.

Game adalah sebuah hiburan. Posisinya sama seperti musik, film, buku, dan hal menyenangkan lain sejenisnya. Buat orang-orang yang menyukai game super sulit, boleh jadi kesulitan adalah kesenangan itu sendiri.