nanda gamecom
in

Kami Ngobrol Bareng CEO Gamecom Team soal Game Indonesia

Gamecom Team adalah studio di balik lahirnya Parakacuk.

Babol, A Day Without Me, Parakacuk. Itulah beberapa game yang lahir di tangan Gamecom Team, studio game lokal yang berisikan para pemuda. Reza Febri Nanda selaku CEO saja masih berusia 22 tahun.

“Kru kami yang paling tua kalau enggak salah sekitar 24 tahun,” tutur Nanda.

Belakangan, nama mereka tengah mencuat. Adalah kehadiran Parakacuk yang jadi penyebabnya. Game yang mengusung genre 3D beat’em up tersebut mencuri perhatian berkat ide cerita yang dibawa, yakni seputar tawuran di kalangan anak sekolah.

Hadirnya Parakacuk sendiri juga semakin meramaikan jagat game lokal yang beberapa tahun ini tampak menggeliat. Sebelum Parakacuk, sejumlah game lokal lain juga sempat mencuri perhatian. Mulai dari Tirta, Samudra, Lokapala, hingga Escape From Naraka.

Menurut Nanda, semua itu jadi bukti bahwa industri game Indonesia sudah berada pada trek yang benar. Beberapa waktu lalu, kami ngobrol dengan sosok asal Pacitan ini untuk membahas lebih jauh soal pendapatnya mengenai industri game Indonesia.

Yang membedakan industri game Indonesia hari dengan, katakanlah, industri game Indonesia lima tahun lalu?

Baca juga:  Ssstt, Rahasia! Inilah Cara Menang Qiu Qiu Higgs Domino dengan Mudah

Salah satunya genre dan pemilihan tema.

Gimana tuh?

Kalau dulu, sih, yang paling populer mentok-mentok game horor. Beda sama sekarang yang jauh lebih beragam.

Wah, kayak film dong!

Iya.

Kalau begitu, apakah bisa dibilang udah lebih baik?

Bisa dibilang gitu. Developer-developer lokal udah mulai berani keluar dari zona nyaman. Kayak yang saya bilang sebelumnya, kalau dulu game horor mendominasi, sekarang udah makin banyak tema-tema yang lain. Cara distribusinya juga banyak dan cenderung lebih gampang.

Menurut Nanda, sepenting apa peran pemerintah dalam membantu mengembangkan industri game?

Kalau soal penting atau enggak sih pasti penting. Tapi sampai sekarang saya belum ngerasain banget gimana peran pemerintah.

Pameran game lokal kayak yang pernah diselenggarain Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif, sekarang Kemenparekraf) beberapa tahun terakhir gimana tuh? 

Kalau saya lebih pengen pemerintah berperan sebagai penyalur atau yang mengenalkan game-game lokal secara luas, entah ke luar negeri atau Indonesia sendiri. Karena memang ini yang paling penting untuk jualan (game). Kalau pameran, kebetulan Gamecom Team pernah ikut yang tahun kemarin, efeknya enggak terasa. Dalam hal penjualan enggak ada perubahan sama sekali. 

Baca juga:  Asosiasi Game Indonesia: Karena Membangun Industri Game Adalah Kerja Kolektif

Gamecom sendiri sebetulnya targetnya ke mana?

Kami targetinnya bisa ke pasar internasional dari awal. Mungkin kebanyakan game memang nyelipin unsur-unsur lokal. Kami juga gitu tapi jujur, target kami luar negeri.

Kalau di Indonesia sendiri, gimana sih tanggapan masyarakat terhadap game-game lokal sejauh ini?

Kalau sekadar tanggapan itu bagus. Di mana-mana banyak yang bahas game kami pas baru rilis. Tapi soal dukungan atau keinginan untuk main masih kurang banget. Mungkin karena kita udah terbiasa sama yang gratisan. Jadi, kalau ada yang gratis, ngapain bayar. Itu sih yang kami soroti.

Berarti bisa saya simpulkan bahwa jualan game di Indonesia susah?

Kalau dari kaca mata saya sendiri, iya. Justru jualan di luar agak lebih mudah. Penjualan A Day Without Me misalnya, lima negara yang paling banyak beli aja berasal dari luar negeri.

Dengan kondisi kayak gitu, jalanin bisnis game di Indonesia prospeknya gimana?

Bisa menjanjikan, bisa enggak sebenarnya. Tergantung game apa yang dijual. Tapi kalau bicara potensi, industri game Indonesia hari ini lebih berpotensi dari beberapa tahun yang lalu.

Baca juga:  Enthrean Radiance, RPG Lokal yang Akhirnya Rilis Setelah 5 Tahun

Itu dari segi industrinya kan ya? Maksudnya bisnis industri game sebagai pendiri studionya. Nah, kalau lebih rinci ke soal pekerjanya sendiri, prospeknya gimana? Kebetulan Nanda juga pernah kerja di studio lain kan sebelum bikin Gamecom.

Kalau saya pribadi sih ya terjamin-terjamin aja, ya (tertawa). Dilihat secara luas pun juga peluang itu selalu ada, apalagi sekarang lapangan pekerjaan di industri game semakin banyak seiring mulai ramenya studio game lokal. Entah mau jadi programmer, animator, story teller, dan lain-lain. Peluang gede banget. Beda sama dulu yang kebanyakan posisinya cuma programmer sama tukang gambar. Dulu bahkan rasanya satu orang biasa ngerjain banyak hal sekaligus.

Berarti ada lowongan di Gamecom Team sekarang?

Waduh (tertawa).

***

Nikmati pengalaman gaming yang lebih seru dengan top-up Steam Wallet termurah se-Indonesia di itemku! Jangan lupa juga untuk gabung dan ikutan tebak skor hasil MPL Season 7 di Forum itemku.

Tinggalkan Balasan