Game Quitters, Perjuangan Mereka yang Ingin Lepas dari Kecanduan Game

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Tak ada yang salah dari game. Namun, pada titik tertentu game dapat menimbulkan kecanduan berbahaya, itulah kenapa Game Quitters didirikan.

Di balik kesenangan di dalamnya, video game dapat membuat orang-orang mengalami kecanduan yang berbahaya. Tak percaya? Silakan tanya pada Cam Adair.

Sejak berusia 11 tahun, Adair yang kini seorang pengusaha sangat menyukai video game. Pada satu titik, itu berubah menjadi candu. Adair bercerita bahwa yang dia alami amat parah. Dia bahkan pernah bermain game hingga 16 jam selama lima bulan berturut-turut.

Kala itu, StarCraft dan World of Warcraft menjadi game-game favoritnya. Selama berjam-jam tiap hari dia memandangi layar monitor sambil memainkan game-game tersebut. Buat Adair, bermain game menjadi pelarian atas tekanan yang dia dapat dari sekolah dan tim Hoki yang dia geluti.

“Suatu hari teman sekamar saya pergi selama tiga minggu. Saya senang bukan main karena dengan begini, saya bisa main game dengan tenang, tanpa ada yang memerhatikan sudah berapa jam yang saya habiskan,” ucapnya kepada Calgary Herald.

Bukan hanya kesenangan yang Adair dapat. Sebaliknya, hidupnya justru semakin kacau. Kecanduan game yang dia alami selama 10 tahun bikin sekolah Adair terhenti. Dia bahkan kerap bolos kerja demi bermain video game di kamarnya yang terletak di basement rumah.

Baca juga:  Riset: Mereka yang Kecanduan Game Memiliki Risiko Depresi yang Rendah
Cam Adair, pendiri Game Quitters.

“Saya putus sekolah, tidak pernah kuliah, depresi, dan di titik tertentu pernah menulis pesan bunuh diri,” ceritanya.

Ketika sadar yang dia lakukan adalah ‘kelainan’, Adair tak hanya ingin berhenti tetapi juga berniat membantu orang lain yang mengalami hal serupa. Berangkat dari sini dia mendirikan Game Quitters, komunitas yang berisi dukungan untuk mereka yang berjuang lepas dari kecanduan game.

Kecanduan game bukan perkara sepele

Adair meluncurkan Game Quitters pada 2015. Sejak dulu hingga sekarang basisnya adalah layanan daring. Kamu yang mengalami kecanduan video game dapat mengunjungi laman itu dan mengakses berbagai jenis layanan yang tersedia.

Ada konten berupa artikel, podcast, video, hingga semacam kuis. Kamu juga bisa mencari terapis dan profesional sejenisnya. Sekadar ingin berbagi melalui forum? Kamu bisa melakukannya di situ. Intinya, semua yang tersedia adalah untuk membantumu lepas dari candu.

“[Game Quitters] tidak hanya tentang upaya membantu orang-orang yang saya cintai, tetapi juga untuk mengubah cara kita memandang kesehatan mental dan kecanduan lainnya secara umum,” ungkap Adair.

Keanggotaan Game Quitters telah mencakup lebih dari 76 negara, termasuk Indonesia. Secara keseluruhan, anggotanya terus bertambah semakin hari dan kini mencapai lebih dari 20 ribu orang.

Baca juga:  5 Game tentang Kesehatan Mental Terbaik

Yang bisa kita lihat dari sana bukan hanya Game Quitters yang terus tumbuh sebagai sebuah komunitas, tetapi juga jumlah pengidap kecanduan video game yang rupanya tak sedikit.

Menurut riset Birmingham Young University tahun lalu, pencandu video game sebetulnya minoritas di dunia gaming. Walau begitu, mereka adalah orang-orang yang mengalami kecanduan tingkat akut, yang efek jangka panjangnya adalah gangguan mental, interaksi sosial, hingga perilaku.

Vice Indonesia pernah menulis artikel panjang tentang kecanduan game di Indonesia. Mereka mengangkat kisah Muhammad Riqsa (nama samaran), seorang remaja berusia 15 tahun asal Jawa Barat yang mengalami kecanduan video game tingkat akut.

Bermain game

Sehari-hari Riqsa menghabiskan uang pemberian orang tuanya untuk bermain di warnet, membeli pulsa, item, dan pernik game lainnya. Mula-mula hanya berkisar Rp25 ribu, tapi semakin hari dia bisa menghabiskan ratusan ribu per minggu.

Saat keinginannya tak terpenuhi, Riqsa bakal mengamuk. Sang ayah dan ibu lantas mengeluarkan Riqsa dari sekolah, tak lama setelah dia mengancam teman sekelasnya dengan pisau dapur di sekolah. Pada akhirnya, Riqsa mesti menjalani perawatan di ruang inap khusus anak RSJ Cisarua, Jawa Barat.

Baca juga:  Riset: Game Ternyata Baik untuk Kesehatan Mental

Rumah sakit itu sendiri terbilang sering menerima pasien serupa. Tiap bulan, mereka mengaku selalu menerima belasan pasien berusia 7–15 tahun dengan kondisi kecanduan ponsel. Sejak 2016 jumlahnya bahkan mencapai lebih dari 200 pasien.

“Sejak tahun 2016, pemakaian tempat tidur untuk pasien anak yang kecanduan ponsel sudah lebih dari 60 persen,” ujar Direktur RSJ Cisarua dr. Elly Marliyani, Sp.KJ., MKM, kepada Detik.

Kisah itu jadi bukti bahwa kecanduan game bukan perkara biasa. Adair menyebutnya sebagai kecanduan yang lazim kamu temui masa kini. Posisinya sama dengan ragam candu lain seperti judi, alkohol, hingga narkoba. Penelitian yang terbit di Addictive Behaviors juga mengungkapkan hal serupa.

Tak heran jika kemudian Organisasi Kesehatan Dunia alias WHO memasukkan istilah “gaming disorder” sebagai salah satu penyakit internasional untuk menggambarkan para pencandu game akut. Dari sinilah keberadaan komunitas seperti Game Quitters jadi krusial.

Pada akhirnya tak ada yang salah dari bermain video game. Bahkan ada riset dari Oxford yang menyatakan bahwa game dapat memengaruhi kesehatan mental karena bikin orang-orang berbahagia. Namun, “jika ini berdampak negatif, kita perlu membahasnya lebih jauh,” ujar Adair.