Game di Korea Utara: Apakah Masyarakat Negara Otoriter Ini Main Game?

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Bagaimana kondisi game di Korea Utara? Apakah penduduknya main game? Pertanyaan-pertanyaan ini pasti pernah terbesit di kepala kita semua.

Di drama Korea Crash Landing on You (2019), rekan-rekan Ri Jeong-hyuk yang sesama tentara Korea Utara tampak kebingungan begitu menginjakkan kaki di Korea Selatan. Mereka heran melihat makanan yang bisa dipesan dari jarak jauh hingga sistem fingerprint scanner untuk membuka pintu.

Mau bagaimana lagi, ini kali pertama mereka berada di negara yang letaknya bersebelahan dengan negara beribukota Pyongyang itu. Di sisi lain, Korea Utara sangat berkebalikan: Sebuah negara yang amat tertutup bagi dunia luar. Tak ayal, perkembangan teknologi di sana amat tertinggal.

Lantas, apakah video game di Korea Utara juga berada dalam kondisi serupa?

Bagaimana video game di Korea Utara?

Industri video game Korea Selatan menyumbang hingga 67 persen dari total ekspor konten pada 2018. Jika ditotal, angkanya mencapai 9,6 miliar dolar Amerika Serikat. Angka ini menempatkan Korea Selatan sebagai negara dengan pendapatan dari video game tertinggi keenam di dunia.

Sementara itu, tetangga yang letaknya di sebelah utara sangat berbeda. Perkembangan teknologi, lebih-lebih video game, amat ketinggalan di sini. Penyebabnya satu: Pemerintah melarang persebaran hampir semua produk asing. Video game termasuk salah satunya.

Baca juga:  Roblox Squid Game Viral, Bagaimana Cara Bermainnya?

Tapi bukan berarti game sama sekali tidak ada.

Pada akhir 1990-an, pemerintah mulai mendistribusikan komputer dan beberapa perangkat teknologi lain ke penjuru negeri. Bersamaan dengan inilah game mulai masuk ke Korea Utara. Meski begitu, hampir semuanya termasuk produk-produk lokal, bahkan hingga hari ini.

Yang bisa menikmatinya? Hanya keluarga-keluarga elite di Pyongyang. 

Adanya game lokal itu sendiri sebetulnya menunjukkan bahwa perkembangan teknologi di Korea Utara tak sedemikian tertinggal. Ini juga sejalan dengan salah satu keinginan pemerintah untuk mengikuti standar internasional. Bedanya, mereka ingin mencapainya lewat cara sendiri.

Associated Press pada 2015 melaporkan bahwa game lokal berjudul The Boy General amat populer di Korea Utara. Mereka juga sempat mengembangkan game simulasi sepak bola King of Scoring 2019 yang sekilas hendak menyerupai game-game seperti FIFA atau pun Pro Evolution Soccer.

Tentu semua game itu tak sebanding dengan standar masa kini, tetapi ini menunjukkan komitmen besar dari pemerintah setempat.

Baca juga:  Game di Nigeria: Minimnya Akses Internet Jadi Penghambat
The Boy General
The Boy General. Foto: AP

Seorang pembelot Korea Utara pernah menceritakan kondisi tersebut beberapa tahun lalu. Dia bercerita, pemerintah sangat gencar mempromosikan pendidikan teknologi dan informasi. Buktinya, selain game, mereka telah mengembangkan smartphone sendiri.

Salah satu smartphone yang lumayan terkenal bernama Arirang 151. Di dalamnya sudah tersemat beberapa game. Mulai dari balap mobil hingga tembak-tembakan. Ada pula game yang sekilas mirip dengan Angry Birds yang memang sempat begitu populer.

Pada akhirnya, secara tak langsung semua itu memicu para penduduk untuk melek teknologi. Terlebih, sejak awal 2000-an budaya Korea Selatan seperti film dan drama mulai menjangkau mereka. Lewat tontonan itulah mereka tahu bagaimana video game berkembang di negara lain.

Faktor berikutnya: Game-game selundupan dari China.

Lewat selundupan itulah penduduk Korea Utara bisa menikmati game-game terkenal dari luar negeri. Mereka akhirnya tahu bahwa ada game yang bernama FIFA, Grand Theft Auto (GTA), DOTA 2, Project IGI2, dan berbagai jenis video game populer lain.

GTA San Andreas

Walau begitu, tentu saja, mereka mesti memainkannya dengan sembunyi-sembunyi. Mau bagaimana lagi, pada dasarnya pemerintah memang masih melarang keras peredaran barang-barang asing, terutama yang berasal dari negara barat.

Baca juga:  Jangan Pernah Mainkan Game Dewasa Ini Saat Puasa, Auto-Batal!

“Saya memainkan hampir semua video game Korea Selatan yang paling terkenal di Korea Utara. Semua teman saya juga pernah memainkan video game asing,” ujar seorang pembelot berusia 14 tahun kepada Daily NK, dilansir The Korea Times.

Pemerintah sangat sadar dengan kondisi ini. Namun, mereka tahu bahwa bukan hal mudah menindak penduduk yang melakukan pelanggaran. Menurut pembelot tadi, para penduduk mampu menyembunyikan tiap game dengan cara mengubah nama file dan tipenya.

“Pihak berwenang tidak secara aktif mengejar penduduk yang memainkan game asing. Mereka bisa mengubah ekstensi nama file dokumen menjadi .mp3 .avi .doc .jpg, dll. untuk menyembunyikannya di depan mata.”

“Orang-orang akhirnya tidak terlalu khawatir ketahuan. Apalagi pihak berwenang lebih fokus uuntuk menindak film dan drama Korea Selatan,” papar dia.

***

Nikmati pengalaman gaming yang lebih seru dengan top-up Steam Wallet termurah se-Indonesia di itemku