Dari Dulu hingga Sekarang, Game Bajakan Tetap Idaman

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Situasi perlahan mulai berubah, tetapi salah besar jika mengira industri ini sudah mati.

Kurun 2007 hingga 2011, Wawan (bukan nama sebenarnya) punya bisnis rental Play Station 2 (PS2). Setiap bulannya ada saja game terbaru yang ia peroleh. Yang paling sering adalah Winning Eleven (WE) karena game inilah yang rutin mendapatkan update.

“Di tempat gue banyak yang main WE. Kayaknya beneran pada suka bola, jadi mereka selalu nanyain yang transfernya paling update,” kata Wawan suatu kali.

Bisnis tersebut sudah lama Wawan tinggalkan. Ia kini berkuliah di salah satu kampus swasta di Palembang. Tapi ia masih ingat betul bahwa uang hasil rental PS-nya kala itu lumayan cukup untuk sekadar menambah pemasukan keluarganya.

Untuk semua itu, selain kepada Sony yang menghadirkan sihir bernama PS, Wawan amat berterima kasih kepada para penjual DVD game bajakan. “Gue yang sekarang bakal mikir kalo itu ilegal, tapi dulu boro-boro. Lagian kayaknya hampir semua rental PS pake game bajakan,” Wawan berujar.

Game bajakan itu murah

Terutama di Indonesia, game bajakan ibarat sumber utama seseorang untuk bermain game. Tentu, tujuannya bermacam-macam. Beberapa menggunakannya untuk bisnis rental PS seperti Wawan, tak sedikit pula yang sekadar konsumsi pribadi.

Baca juga:  Kompilasi Alasan Kocak Warganet Agar Diizinkan Pasangan Beli PS5

Penyebab utama adalah harganya yang murah. Bagi para penjual–entah game untuk PS ataupun PC, mereka cuma butuh modal internet untuk mengunduhnya, lalu DVD sebagai wadah menyimpan game tersebut, hingga akhirnya dijual dengan harga 10 hingga 20 ribu rupiah.

Harga tersebut amat murah jika dibandingkan dengan membelinya di lapak resmi. Itulah kenapa orang-orang seperti Wawan tadi menjamur. Dan karena mereka menjamur, para penjual DVD bakal ketiban untung yang enggak sedikit.

Pada 2017, Vice Indonesia memuat artikel panjang tentang industri game bajakan di Indonesia. Mereka mengangkat sosok Welly, seorang penjual game bajakan asal Bandung, yang meraih untung berkali-kali lipat saat Grand Theft Auto V baru rilis.

Game bajakan

“Aku dapat Rp25 juta gara-gara GTA V. Itu cuma dari penjualan GTA V doang,” ujar Welly.

Hukum yang tumpul

Orang-orang seperti Welly, juga Wawan, barangkali menganggap aktivitas mereka sebagai hal lumrah. Namun, yang selama ini mereka lakukan sebetulnya adalah ilegal. Karena ini ilegal, tentu berkaitan dengan peraturan perundang-undangan.

Baca juga:  Membahas Bahasa dan Video Game tanpa Bicara Soal Belajar Bahasa melalui Game

Undang-Undang No 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta menyebutkan: Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran hak cipta atau hak terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp500.000.000 (lima ratus juta rupiah).

Kendati demikian, pada praktiknya hal tersebut tak membuat jera. Karena, ya, penerapannya masih longgar. Tahun lalu, misalnya, pemerintah mengakui bahwa mereka kesulitan memberantas segala hal terkait software, termasuk game, bajakan karena minimnya aduan.

Dengan kondisi ini tak heran bila orang-orang seperti Wawan dan Welly terus bertahan, bahkan sangat mungkin bertambah. Terlebih, para konsumen cenderung lebih suka segala sesuatu yang murah ketimbang yang resmi. Singkat cerita, selama pasarnya ada, industrinya akan terus tersedia.

Akses yang terbatas

“Kalau jaman gue masih buka rental, masalahnya mungkin karena akses (game legal) yang sulit kali, ya,” papar Wawan, yang memang membuka bisnisnya di kota kecil.

Baca juga:  Kisah-kisah Penolakan Nintendo

Ungkapan Wawan masuk akal, meski tak sepenuhnya benar. Pasalnya, di masa sekarang akses game legal (enggak cuma game, sih, musik, film, dll. juga) sudah sangat gampang. Selama ada internet kamu bisa membeli game-game terbaru dengan cepat.

Khusus untuk PC, platform khusus penyedia game resmi bahkan sudah menjamur. Dua yang paling populer adalah Steam dan Epic Game Store. Meski begitu, kondisi ini tak lantas mengubah kebiasaan orang-orang sepenuhnya.

Masih cukup banyak yang sengaja mencari game-game bajakan. Ada yang mengunduhnya melalui lapak-lapak internet, misalnya laman ******* (hehehe). Sebagian lagi membelinya melalui toko offline hingga toko online yang tersebar di sejumlah marketplace.

Sedikit hal yang mulai mengubah kebiasaan kita adalah kehadiran smartphone. Di sana, sebagian besar game tersedia secara gratis, dan pastinya legal.

Uang, sementara itu, baru akan kamu keluarkan saat ingin membeli item dalam game. Sistem ini kian didukung dan dimudahkan oleh menjamurnya marketplace khusus produk game.

Walau begitu, salah besar jika kamu mengira industri game bajakan sudah mati.