Esports Indonesia Menanti Komitmen Pemerintah

Bicara potensi, esports Indonesia sudah cukup teruji. Namun, potensi saja tak cukup. Diperlukan pula dukungan dan komitmen pemerintah.
timnas esports indonesia
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Jika pengakuan dunia adalah tolok ukur utama, esports Indonesia punya potensi yang amat besar.

Sepanjang 2020 cukup banyak prestasi tingkat dunia yang atlet esports Tanah Air raih. Bigetron menjuarai PMPL South East Asia, EVOS berjaya di International Games Championship, lalu Alter Ego yang tampil gemilang di MPL Invitational.

Belum cukup? Mari toleh Muhammad Rizki Anugrah alias InYourdreaM yang pada awal tahun bergabung dengan tim esports Korea Selatan T1. Ada pula Made Bagas ‘Zuxxy’ Pramudita, pemenang penghargaan Esports Mobile Player of The Year pada Esports Awards 2020.

Zuxxy jadi bukti bahwa esports Indonesia punya potensi.

Potensi esports Indonesia juga bisa kita lihat secara kuantitas. Tim-tim dan turnamen esports lokal mulai menjamur, para atletnya pun demikian. Audiens? Hah, jangan tanya, inilah salah satu penggerak masifnya perkembangan esports belakangan ini.

Kalau semua itu sudah punya, lalu apa lagi yang kurang? Ya, betul, komitmen pemerintah.

Menanti komitmen penuh pemerintah

Sudah lama pemerintah menegaskan keinginan mereka mendorong pertumbuhan esports Tanah Air. Pada 2013, mereka meresmikan pendirian asosiasi esports Indonesia (IeSPA). Namun, sejak saat itu pertumbuhannya seolah mandek.

Baca juga:  Daftar Pemenang Indonesia Gaming Award 2020: RRQ Jadi Tim Esports Terbaik

Simak saja regulasi dan segala sangkut pautnya. Selama tujuh tahun IeSPA berdiri esports Indonesia belum memiliki regulasi yang jelas. Baru pertengahan tahun ini pemerintah berencana menggarap hal yang harusnya jadi aspek penting sebuah cabang olahraga itu.

Sebagai sebuah olahraga, esports sendiri mulai menggeliat di Indonesia sejak tiga hingga empat tahun belakangan. Tatkala rencana memasukkannya sebagai ajang eksibisi di Asian Games 2018 Jakarta-Palembang, gaungnya semakin kencang.

Masalahnya, persiapan kala itu terlampau dadakan. Hal serupa juga terjadi di SEA Games 2019. Bahkan Hybrid menyebut bahwa pemilihan pemain untuk memperkuat Tim Nasional sempat membingungkan karena proses seleksinya yang berbeda pada masing-masing cabang game.

Satu-satunya yang menjadi penyelamat Indonesia pada gelaran itu, hingga akhirnya meraih dua medali, adalah iklim esports Tanah Air yang mulai terbentuk. Untuk hal ini, kita patut berterima kasih pada tim-tim lokal dan sejumlah influencer. 

Sementara tim-tim tersebut gencar merekrut talenta-talenta muda dan berbakat, para influencer jadi pihak yang mempopulerkan sekaligus menghapus stigma buruk esports di Indonesia. Pada akhirnya banyak atlet esports bermunculan. Seiring dengan itu, skena kompetitif mulai tumbuh.

Baca juga:  Yang Baru dari Garena: Free Fire Indonesia Masters 2021 Spring

Dari sanalah terlihat potensi besar dari esports di Indonesia. Namun, lagi-lagi kami tegaskan bahwa potensi saja tak cukup. Butuh peran pihak lain, termasuk pemerintah. CEO RRQ Andrian Pauline juga menegaskan hal serupa pada konferensi pers Indonesia Esports Award 2020.

“Enggak cukup punya talent yang bagus, tapi harus ada ekosistem yang mendukung. Di sinilah pemerintah, swasta, media harus berperan penting dalam perkembangan Esport. Saya pikir kami perlu dukungan semua pihak untuk mendapatkan pemain berkualitas di kancah internasional,” ucapnya.

Hingga kini, pemerintah seolah cuma memandang esports sebagai bisnis. Bahkan Sandiaga Uno yang baru saja dilantik menjadi Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) sudah berulang kali mengucapkan hal tersebut, termasuk baru-baru ini.

Baca juga:  Kilas Balik 2020: 5 Tim Esports Terbaik Versi EXP

“Untuk kategori penonton saja esport sudah mengalahkan olahraga tradisional. Pada tahun 2023 diperkirakan akan ada 646 juta pemirsa E-Sports di seluruh dunia,” kata Sandiaga dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, akhir tahun lalu.

Keinginan pemerintah Indonesia masuk akal jika melihat potensi angka-angka yang bisa dihasilkan esports. Turnamen DOTA 2 paling akbar di dunia, The International, bahkan memiliki total hadiah di atas 34 juta dolar Amerika pada edisi terakhir.

Namun, tetap saja, hal demikian mesti dibarengi dengan aspek olahraganya sebab keduanya sama-sama penting dan harusnya bisa saling melengkapi. Terlepas dari itu, esports adalah kependekan dari electronic sports. Tak ada bisnisnya.

Rekomendasi