Cyberpunk 2077, Crunch, dan Cacat di Balik Pengembangan Game

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Tak cuma hasilnya yang bermasalah, proses pengembangan Cyberpunk 2077 juga mengalami hal serupa karena crunch yang diterapkan.

Sejak 2012 CD Projekt Red (CDPR) sudah mengumumkan proyek Cyberpunk 2077. Meski begitu, proses pengembangan game ini berlarut-larut.

Game itu mestinya rilis pada April 2020, tetapi terpaksa mereka tunda hingga 17 September. Mendekati waktu tersebut, penundaan kembali terjadi, yakni hingga 19 November karena sejumlah perbaikan.

CDPR enggan perbaikan belangsung terlampau lama sebab berpotensi bikin tanggal rilis kembali berubah. Maka dari itu, mereka menerapkan crunch dan menjanjikan bonus untuk mereka yang terlibat selama pengembangan Cyberpunk 2077.

“Mulai hari ini, kami akan bekerja keras,” ujar kepala studio CSPR, Adam Badowski.

Tak satu pun menyukai penundaan. Alhasil, sebagian orang menyambut baik kabar crunch, terutama para penggemar yang memang sudah tak sabar menjelajahi Night City. Namun, tak sedikit yang tersulut. Muasalnya adalah crunch itu sendiri.

Cyberpunk 2077

Istilah ini merujuk pada tambahan beban lembur berlipat yang biasanya terjadi jelang perilisan game. Di waktu-waktu demikian para pengembang mesti bekerja gila-gilaan. Tak sedikit yang mesti menginap. Beberapa mendapat beban kerja hingga 50 jam seminggu, sebagian lagi 70 jam.

Sejumlah studio memang memberikan uang tambahan, tapi semua itu berdasar pada tuntutan kerja tak manusiawi yang bahkan dikeluhkan oleh para pekerja. Inilah crunch.

Tak ada yang menyenangkan dari Crunch

Lewat grafis indah dan gameplay yang menyenangkan, The Last of Us layak disebut sebagai salah satu seri game terbaik sejak pertama kali rilis pada 2013. Sekuelnya yang bertajuk The Last of Us Part II bahkan terpilih menjadi game terbaik tahun ini versi The Game Awards 2020.

Baca juga:  Yang Binglin: Usianya 86 Tahun, Sudah Tamatkan 300 Game

Atribut-atribut itu cukup untuk jadi alasan bagi desainer dan pekerja game lainnya untuk bekerja di Naughty Dog, studio pengembang The Last of Us. Bagi sebagian dari mereka, Naughty Dog adalah tempat terbaik untuk bekerja. Ada bayaran yang besar, rekan kerja yang notabene desainer dan programmer ternama, hingga yang paling sederhana seperti memperkaya portofolio.

Semua terasa menyenangkan sebagaimana memainkan The Last of Us sendiri, sampai kita tahu bagaimana proses di baliknya.

the last of us part 2

Pada hari-hari biasa para pekerja akan melakukan tugasnya hingga 12 jam sehari. Ini hal lumrah di perusahaan yang menuntut kesempurnaan seperti Naughty Dog.

Jelang momen-momen penting seperti tanggal perilisan, beban kerja bahkan dapat berubah ke dalam mode crunch. Artinya, para pekerja bisa bekerja hingga lebih dari 12 jam dan menginap. Hal ini tentu mengorbankan kesehatan, keluarga, serta kehidupan pribadi lainnya.

“Mereka mencoba untuk menjagamu, menyediakan makanan, dan menganjurkan istirahat. Namun, kamu mesti menyelesaikan tugas bagaimanapun caranya,” ujar salah satu mantan pengembang Naughty Dog, dilansir Kotaku.

Kisah yang terjadi pada para pekerja Ensemble Studio lain lagi. Suatu hari jelang perilisan game Halo Wars, seperti diceritakan jurnalis Jason Scheirer dalam bukunya Blood, Sweat, Pixels (2017), muncul perdebatan di antara tim pengembang. Sebagian beralasan, game hasil rancangan mereka tak sebaik yang tersaji pada versi demo.

Baca juga:  Menebak Game Favorit Kakek Sugiono, Aktor Idola Kita Semua

Meski sempat melakukan perbaikan, ujung-ujungnya mereka memutuskan untuk merancang game dari awal lagi. Mau tak mau, para pekerja mesti terlibat crunch.

Masalah tak berhenti di situ. Microsoft selaku perusahaan yang menaungi Ensemble Studio berencana menutup studio tersebut. Muasalnya adalah proyek yang berlarut-larut ini serta fakta bahwa Ensemble Studio sama sekali belum merilis game dalam dua tahun.

Bayangkan, para pekerja akan terlibat crunch di perusahaan yang tak lama lagi bakal tutup.

CDPR ingkar janji

Melalui artikelnya di Reporter, Tommy Delp menjelaskan, beberapa pekerja tak mempermasalahkan budaya crunch. Delp bahkan menyebut bahwa semua itu dilakukan atas dasar hasrat mereka sendiri. Saat CDPR mengumumkan crunch untuk Cyberpunk 2077, alasan seperti ini juga mereka gunakan.

Mirisnya, fakta yang terjadi tidaklah demikian. Jurnalis Jason Scheirer lewat Twitter-nya menulis, para pekerja CDPR yang terlibat proyek Cyberpunk 2077 sama sekali tak punya opsi. Informasi peundaan waktu rilis sekaligus crunch datang langsung dari perusahaan dalam bentuk instruksi.

Baca juga:  Deretan Game Terbaru yang Akan Rilis November 2020

“Mereka (para pekerja) bilang bahwa percakapan tidak pernah terjadi. ‘Kami mendapat email dan langsung rapat dengan pimpinan tim kami. Tidak pernah ada pilihan atau pertanyaan,” tulis Schreirer yang mengaku telah menanyai beberapa pekerja CDPR.

Schreirer menulis itu setelah tuduhan yang menyebut bahwa ia menulis berita hoax. CDPR bahkan secara tegas menyebut para jurnalis seperti Schreirer hanya mencari ‘klik’ melalui semua cerita tentang proses pengerjaan Cyberpunk 2077, termasuk isu crunch.

Meski begitu, Schreirer punya bukti. Ia tak cuma bertanya kepada beberapa pekerja tetapi juga punya tangkapan layar yang berisi instruksi crunch dari CDPR. Instruksi itu tertulis atas nama kepala studio CDPR Adam Badowski.

“Podcast Game Informer bilang bahwa laporan saya soal crunch di Cyberpunk 2077 tidak benar. (Mereka) abai pada fakta bahwa saya telah mewawancarai lebih dari selusin pekerja CDPR,” tulis jurnalis Bloomberg ini.

Sejak mengumumkan crunch, CDPR memang telah mengundang kontroversi. Pasalnya, mereka termasuk salah satu perusahaan yang sebelumnya berjanji mengurangi kultur kerja lembur berlebihan ini. Apa boleh bikin, janji itu tak mereka tepati hingga akhirnya Cyberpunk 2077 rilis pada Kamis (10/12).