valorant
in

Bagaimana Riot Games Membawa Valorant Menyaingi Counter Strike

Counter Strike: Global Offensive (CS: GO) seperti tim sepak bola yang tak punya saingan di liganya. Mereka kaya raya, punya banyak pemain bintang, fans di mana-mana, dan tentu sudah berulang kali menjadi juara. Sejak rilis pada 2000 hingga memiliki skena esports yang berkembang super pesat, posisi mereka betul-betul tak tergoyahkan.

Barangkali itu yang bikin CS: GO pongah. Dari puncak, mereka enggan menoleh ke bawah lagi. Mereka pikir, tak ada game lain yang bisa menyaingi. Lalu datanglah Valorant

CS: GO sebetulnya tak peduli amat kendati cukup banyak yang melabeli frasa ‘penakluk CSGO’ pada Valorant. Toh, cuma game bau kencur. Namun, mereka tak tahu bahwa label yang disematkan pada game bikinan Riot Games ini bukan isapan jempol belaka. CS: GO masih tak peduli dan ketika sadar, Valorant sudah berdiri tepat di sebelah mereka.

Pada dasarnya Valorant adalah game first-person shooter yang generik. Namun, beberapa bagian terasa otentik dan punya keunggulan dalam hal variasi masing-masing karaker. Variasi itu bermula dari premisnya sendiri. Kisahnya, di masa yang entah kapan bumi mengalami Firs Light. Kejadian ini memunculkan orang-orang dengan kekuatan khusus.

Kamu bisa memilih orang-orang tersebut atau dalam hal ini kita sebut sebagai agen untuk beraksi dalam sebuah game kompetitif 5v5. Valorant menggunakan istilah Attacker dan Defender untuk kedua tim. Salah satu tim akan berusaha memicu alat peledak bernama Spike. Sementara itu, kelompok lain akan sekuat tenaga mencegahnya.

Cara Valorant menyaingi Counter Strike

Valorant

Ketika mengembangkan Valorant, rencana jangka panjang Riot Games satu: Mereka ingin menyulap game ini menjadi game dengan ekosistem esports terdepan. 

Tiga bulan setelah rilis, rencana itu bahkan sudah mereka mulai. Namanya adalah First Strike, turnamen berskala global yang mencakup North America, Europe, CIS, Turkey, Asia, Oceania, Brazil, dan Middle East.

Riot paham betul bahwa esports bisa menjadi pintu masuk banyak hal. Mereka sudah merasakan manisnya ketika menghadirkan turnamen global untuk game League of Legends, seri andalan lain yang bahkan sanggup mengusik singgasana DOTA 2.

Karena esports, League of Legends meraih banyak eksposur. Dampaknya, mereka punya segudang penggemar. Boleh dibilang ini dampak instan sebab ranah esports sendiri ibarat tanah subur. Pada 2019, Statista mencatat bahwa esports memiliki audiens berjumlah 495 juta orang. Industri ini juga menghasilkan pemasukan hingga 1,1 miliar dolar Amerika.

Hal serupa coba Riot bawa untuk Valorant. 

“Pada turnamen esports pertama, kami mendapatkan sponsor seperti Amazon Prime dan Prime Gaming, Verizon, Red Bull, JBL, SecretLab, dan Playzilla. Semuanya mitra yang luar biasa.”

“Ini menunjukkan betapa berkualitasnya kemitraan yang kami bangun dan kami perkirakan akan membuat Valorant semakin menarik untuk tahun-tahun mendatang,” kata kepala pengembangan bisnis Riot, Marr Archambault, kepada GamesBeat.

Esports sudah lama menjadi panggung utama CS: GO. Selain kultur warnet yang sempat sangat dominan, ranah esports-lah yang membesarkan nama mereka. Tapi ketika Valorant coba merambah area ini, berbagai perbandingan tak terelakkan sama sekali. Terlebih, keduanya punya konsep yang mirip.

Sebagian besar perbandingan itu muncul dari kalangan pro player. Di antara semuanya, cukup banyak yang memuji Valorant. Menariknya, pujian-pujian yang berdatangan bukan sekadar pujian terhadap game baru. Pujian yang muncul benar-benar berasal dari kualitas yang Valorant bawa.

Menurut Michael ‘Shroud’ Grzesiek, seorang pro player yang kini menjadi streamer, Valorant menyajikan pengamalaman gaming yang jauh lebih menarik ketimbang CS: GO. Apalagi, katanya, Valorant relatif aman dari cheat ketimbang CS:GO yang memang dipenuhi banyak cheater.

“Saya sangat senang memainkan CS:GO karena ketika bermain langsung bertemu dengan cheater,” sindir Shroud.

Pelatih tim Counter Strike TSM, Tailored, punya pandangan yang lebih detail. Dia menilai kunci berhasilnya Valorant ada pada Riot itu sendiri. Menurut dia, Riot berhasil membuat ekosistem gaming yang ramah untuk semua kalangan sehingga komunitas mereka amat terjaga.

Anggapan itu adalah benar belaka. Saat ini, misalnya, ekosistem esports perempuan Valorant cukup berkembang. Beberapa tim populer seperti Gen.G sengaja membentuk tim esports perempuan mereka sendiri. Kemudian ada Cloud9 yang sebelumnya bahkan tak memiliki tim perempuan.

Berdasarkan riset WomenInGames, yang kami lansir dari Gamesbeat, ada sebanyak 71% responden perempuan yang merasa perempuan tak terwakili di esports dan video game. Dengan begini, upaya membawa game dan khususnya esports lebih akrab dengan perempuan adalah perkara krusial.

Di samping itu, hal tersebut juga semakin memperbesar komunitas Valorant sekaligus ‘memperbaiki’ nama Riot Games yang sempat tercoreng akibat sejumlah kebijakan seksis.

“Counter-Strike adalah salah satu game dengan skena esports terbaik di dunia karena memang dibuat untuk sistem kompetitif dan dibuat untuk ditonton oleh masyarakat umum. Bahkan jika kamu tidak tahu cara memainkannya, kamu tetap mengerti apa yang terjadi,” ujar Tailored.

“Tapi Riot memiliki hubungan yang begitu dalam dengan komunitasnya. Mereka juga sudah melakukan upaya panjang untuk menjadikan game-game mereka lebih ramah keluarga, ramah pemain, dan ramah organisasi. Mereka belajar dari pengalaman mereka sendiri dalam membesarkan League of Legends,” sambung dia.

Riot Games sadar banyak yang membandingkan Valorant dengan CS:GO. Mereka juga mengakui adanya sedikit kemiripan. Namun, sejak awal mereka sama sekali tak merencanakan hal demikian. Ketika mengembangkan Valorant, mereka fokus pada diri sendiri, alih-alih melihat apa yang sudah CS:GO lakukan.

“Saya akan mengatakan bahwa hal terbaik yang bisa kami lakukan adalah fokus pada diri sendiri dan berupaya membuatnya (Valorant) sebaik mungkin,” ungkap Whalen Rozelle, direktur senior esports global Riot Games.

Beberapa waktu ke depan, Riot bakal merilis Valorant versi mobile, sesuatu yang belum pernah Valve lakukan pada CS:GO. Lagi-lagi, Valorant tampak akan berada selangkah di depan pendahulunya itu.

***

Mau top-up Valorant Point ya di itemku! Pengiriman instan, termurah se-Indonesia pula.

Untuk press release, iklan, dan kerja sama lainnya dapat mengirim email ke anggasp@fivejack.com.

Tinggalkan Balasan

GIPHY App Key not set. Please check settings