Alice in Borderland dan Bagaimana Jika Kita Hidup di Video Game

Alice in Borderland bercerita tentang sekelompok orang yang terjebak di sebuah arena mirip game hidup dan mati. Serial ini tayang di Netflix.
Alice in Borderland
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Kendati sang ayah mengumpatnya hampir tiap hari, Arisu betul-betul menikmati hidup. Ia pengangguran tapi dengan kondisi ini ia bisa bermain game tiap waktu. Ia tak punya kewajiban. Waktu luangnya tak terbatas.

Arisu bahkan pernah berangan-angan hidup di dunia game atau dunia apapun yang tidak seperti tempatnya berdiri kini. Sebuah angan yang jelas mustahil sampai situasi aneh itu terjadi.

Ketika berada di tengah Tokyo bersama Chota dan Karube, orang-orang mendadak hilang. Momen itu jadi penanda yang mengantarkan ketiganya ke sebuah arena permainan hidup dan mati bernama Borderland.

Konsepnya: Mereka mesti menang dalam tiap kompetisi guna mendapatkan sebuah visa untuk bertahan hidup. Jika kalah, sosok yang mengendalikan dunia Borderland akan membunuh mereka.

Ya, saya sedang bicara tentang Alice in Borderland, serial terbaru Netflix yang diangkat dari manga berjudul sama.

Saya tak bakal membahas serial itu secara utuh. Tapi saya jadi bertanya-tanya: Apakah sebetulnya kita hidup dalam sebuah video game? Mungkinkah dunia yang kita pijaki ini tak berbeda dengan Borderland?

Baca juga:  5 Game Masak yang Bikin Puasa Kamu Terancam Batal

Banyak orang membayangkan hidup di video game

Di Reddit, ada sebuah subkanal bernama Outside. Lebih dari 650 ribu orang bergabung di kanal itu. Mereka adalah sekelompok orang yang kerap berbagi kisah dengan cara mengumpamakan hidup bak video game.

Orang-orang yang tergabung di Outside punya semacam bahasa yang seragam. Sejumlah istilah seperti level, bug, misi, buff, nerf, dan istilah game lain mereka gunakan untuk menceritakan suatu kisah.

Karena tahun baru menjelang, misalnya, salah satu akun menulis: “Bersiaplah memperbarui game Anda karena 2021 v1 akan rilis tak lama lagi. Semoga kita bisa menambal bug COVID.”

Akun MegaManZer0 menganggap Outside sebagai cara terbaik untuk mengubah kehidupannya yang terkesan biasa-biasa saja menjadi petualangan yang menyenangkan.

Katanya, seperti dilansir Washington Post, “Beberapa bersifat ringan, seperti menyebut bahwa ulang tahun adalah peningkatan level hingga bertemu dengan sahabat tak ubahnya bergabung guild [kelompok] yang hebat.”

“Di sini,” ujar MegaManZer0, “hal-hal seperti lulus ujian atau melewati masa sulit dalam hidup bisa dikisahkan seolah-olah baru saja mengalahkan villain yang kuat.”

Baca juga:  99 Game PC Ringan Anti Lemot (Part 1)

Benarkah kita hidup di video game?

Beberapa pengamat pernah mengungkapkan gagasan kontroversial yang menyebut hal-hal seperti yang diimpikan orang-orang di Outside benar adanya: Bahwa kita hidup di sebuah game simulasi.

Nick Bostrom dari Oxford termasuk salah satunya. Pada 2009, ia menulis makalah berjudul Are We Living in a Computer Simulation. Di sana ia mengemukakan gagasan yang sempat bikin geger.

Bostrom menggambarkan peradaban yang unggul secara teknologi. Ada semacam komputasi super dan sebagian dari kekuaan itu dapat digunakan untuk mensimulasikan realitas baru.

Dengan gambaran demikian, Bostrom menyimpulkan tiga hal yang salah satu di antaranya ia yakini bisa saja benar. Pertama, manusia selalu punah sebelum memahami simulasi. 

Kedua, kendati berhasil mencapai tahap itu, manusia tak tertarik meniru masa lalu para leluhur. Ketiga, kemungkinan kita hidup di sebuah simulasi mendekati angka satu.

Penulis The Simulation Hypothesis, Rizwan Virk, mendukung gagasan tersebut. Dia bahkan menyebut ada banyak bukti yang menunjukkan bahwa manusia benar-benar hidup dalam sebuah simulasi.

Baca juga:  Game Friv: Kumpulan Game Terbaik yang Cocok untuk Anak
alice in borderland

“Saya pikir ada kemungkinan besar kita, pada kenyataannya, hidup dalam simulasi, meskipun kita tidak dapat mengatakannya dengan keyakinan 100 persen. Tapi ada banyak bukti yang mengarah ke sana,” ucapnya.

Hal senada juga pernah diungkapkan oleh CEO Tesla Elon Musk. “Peluang bahwa kita berada dalam realitas dasar adalah satu dari miliaran,” ujar sosok berusia 49 tahun tersebut, 2016 lalu.

Saya tak bisa menyimpulkan apa-apa. Saya bahkan tak mau percaya argumen para pengamat itu. Tapi jika benar, dan kalau bisa memilih, saya enggan berada di game hidup mati seperti yang dialami Arisu dalam Alice in Borderland.

Saya lebih memilih hidup seperti Max di game Life is Strange: Yang bisa me-rewind waktu tiap kejadian buruk terjadi. Sebab sebagian dari 2020 ini menyebalkan dan saya ingin me-rewind lalu memperbaiki semuanya.